Media Islam Web Developer

HARAM MERAYAKAN HARI VALENTINE

PENTING! BUKU IMAN

PASANG IKLAN?

JUAL MOBIL TOYOTA

Daftar Milis Syiar-Islam

Powered by us.groups.yahoo.com

WAKAF PASAR ISLAM

TanahAbang.Asia

Islam Download.Net

TanahAbang.Asia

Busana Muslim

busanatanahabang.com

Baju Muslim

BayiPintar.com

Toko Buku Online DemiMasa

FORUM DISKUSI

Jadwal Shalat

Bisakah Mengganti Tasawuf dengan Ihsan?

Di Majalah Nebula (ESQ) saya membaca konsep Iman, Islam, dan Ihsan dari Ary Ginanjar. Ini menarik.

Sebagian orang/kelompok ada yang memakai Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf. Bahkan ada yang bilang kalau cuma belajar Tauhid dan Fiqih saja tanpa Tasawuf berarti belum sempurna. Padahal Tasawuf tidak ada pada zaman Nabi, bahkan kata ”Tasawuf” bukan berasal dari bahasa Arab. Baru muncul 2-3 abad setelah Nabi meninggal.

Dari Abi Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam“… Barang siapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka”. (Hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/36) dan Muslim (1/8) dll)

Oleh karena itu ketimbang memakai kata ”Tasawuf” untuk ”menyempurnakan agama Islam, kenapa kita tidak memakai kata ”Ihsan” yang jelas-jelas ada di hadits Nabi?

Hadist riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra.:

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Pada suatu hari, Rasulullah SAW muncul di antara kaum muslimin. Lalu datang seseorang dan berkata: “Wahai Rasulullah, apakah Iman itu?”. Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, para utusan-Nya, dan beriman kepada Hari Kebangkitan akhir”.

Orang itu bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apakah Islam itu?”. Rasulullah SAW bersabda: “Islam, yaitu engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan shalat fardhu, memberikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadhan”.

Orang itu kembali bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu?”. Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu”.

Orang itu bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, kapankah Hari Kiamat itu?”. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang menanya. Apabila ada budak perempuan melahirkan majikannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila ada orang yang semula miskin menjadi pimpinan manusia, maka itu termasuk di antara tandanya. Apabila orang-orang yang tadinya menggembalakan ternak saling berlomba memperindah bangunan, maka itu termasuk di antara tandanya. Ada lima hal yang hanya diketahui oleh Allah”.

Kemudian Rasulullah SAW membaca Surat Luqman ayat 34: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya saja lah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Kemudian orang itu berlalu. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Panggillah orang itu kembali!”. Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat sesuatu pun. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Itu tadi adalah Jibril, yang datang untuk mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka”.

Ihsan ini artinya kebaikan. Bagaimana kita dekat dengan Allah. Bisa juga diperluas dengan berbuat baik kepada manusia.

Jika Tasawuf yang sesat bercampur dengan yang baik. Ada paham Wihdatul Wujud yang menyesatkan yang merupakan bagian dari Tasawuf tapi bukan bagian dari Ihsan.

Di Tasawuf, dalil dari Al Qur’an dan Hadits dicampur dan sering kalah dengan kisah-kisah/mimpi-mimpi para wali/sufi. Pada Ihsan kita hanya mengambil dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits untuk mendekatkan diri pada Allah dan berbuat baik pada sesama manusia dan makhluk lainnya.

Bisakah kita melepaskan fanatisme kita pada guru kita dengan meninggalkan Tasawuf yang istilahnya tidak ada dalam Al Qur’an dan Hadits dan berpaling ke ”Ihsan”?

”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. ” [At Taubah:31]

[639]. Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.

Jadi, bisakah kita mengganti Tasawuf dengan Ihsan yang jelas disebut dalam hadits Nabi dan Al Qur’an?

4 comments to Bisakah Mengganti Tasawuf dengan Ihsan?

  • ihsan adalah merasa”di.intai”atau merasa’di jaga.oleh sang khalik”’seseorang yang sedang berjalan menuju jalan.yg di tempuh dengan thariqatullah melalui meteode” pasti akan mendapatkan”[ihsan] atau di..jaga oleh allah””’

    saiful serang87@yahoo.co.id

  • nur

    Makin kesini istilah agama itu makin kaya… dan determinasi cumalah sebatas kata-kata. Jadi kalau istilah tasawuf zaman dulu ga ada memang benar tapi ‘keseluruhan beragama’ sudah ada sejak dulu. Cuma sekarang dipilah-pilah.Pelajarilah segala sesuatu sebelum berpikir menyalahkan (negatif)….

  • nizami

    Kalau soal agama, itu harus bersumber Al Qur’an dan Hadits. Tidak bisa kita tambah-tambah sendiri/bid’ah. Ibadah tanpa landasan Al Qur’an dan Hadits itu bid’ah dan tertolak. Apalagi jika menyangkut satu dari 3 pokok Islam, yaitu Ihsan.

    Meski ada yang bersamaan, namun Ihsan beda dgn Tasawuf. Di antaranya:

    1. Dari segi nama, Ihsan itu tercantum dalam Al Qur’an dan Hadits. Tasawuf tidak.

    2. Dari segi sumber Ihsan bersumber dari Al Qur’an dan Hadits. Tasawuf selain 2 sumber itu juga berdasarkan cerita2/mimpi2 aneh orang yang dianggap wali. Nah ini bisa salah dan berlebihan. Contohnya Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Uluumuddiin mencontohkan seorang yang memakai mantel bulu berkutu saking zuhudnya. Ini bertentangan dgn ajaran Islam yang mementingkan kebersihan. Begitu pula contoh orang yang numpang makan dgn berkeliling makan di rumah temannya sehingga seminggu sekali ketemu dgn teman yg sama untuk contoh zuhud. Ini berlawanan dgn sunnah Nabi yang memerintahkan untuk sedekah dan menganggap tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
    Nabi itu rajin bersedekah. Bukan rajin mengemis seperti contoh sufi di atas. Jadi anda ingin mengikuti sunnah Nabi atau sufi di atas?

    3. Ihsan karena bersumber dari Allah insya Allah benar. Sebaliknya Tasawuf, karena sebagian bersumber dari manusia ada yang sesat seperti paham Wihdatul Wujud: menyatunya manusia dengan Tuhan sehingga sufi besar seperti Syekh Siti Jenar dan Al Hallaj dihukum mati para ulama karena menyatakan dirinya Allah. Demikian pula dengan para penari Darwis yg menganggap tari sebagai ibadahnya. Padahal dalam Islam ibadah sudah diatur seperti shalat.

    4. Banyak aliran sesat seperti Ahmadiyyah dan JIL memakai Tasawuf untuk menarik ummat Islam ke dalam paham mereka. Dgn Tasawuf, mereka hapus ajaran dan semangat jihad dari ummat Islam dgn alasan membebaskan diri dari rasa marah atau untuk ketenangan hati.

    Jika anda tetap ingin memakai tasawuf, silahkan. Tapi saya pribadi tetap akan memakai Ihsan sebagaimana Allah telah menyebutnya dalam Al Qur’an dan Nabi juga telah menyebutnya. Insya Allah Ihsan itulah jalan yg lurus. Tidak bercampur dengan kebatilan.

  • darmawan

    siiiiiip … setuju sekali … memang setiap ibadah harus ada tuntunannya yang sesuai al quran dan sunnah ….

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*