<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Media Islam</title>
	<atom:link href="http://media-islam.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://media-islam.or.id</link>
	<description>Belajar Islam sesuai Al Qur&#039;an dan Hadits</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 15:03:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Jual Buku Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis</title>
		<link>http://media-islam.or.id/2012/01/31/jual-buku-ensiklopedia-mukjizat-alquran-dan-hadis/</link>
		<comments>http://media-islam.or.id/2012/01/31/jual-buku-ensiklopedia-mukjizat-alquran-dan-hadis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 03:55:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-islam.or.id/?p=2547</guid>
		<description><![CDATA[<p></p> <p style="text-align: justify;">Inilah Buku Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis. Buku ini mengungkap kebenaran Mukjizat Alquran dan Hadis melalui Ilmu Pengetahuan.</p> <p style="text-align: justify;">Buku ini ditulis oleh: Prof. Dr. Musthafa Abdul Mun&#8217;im, Prof. Dr. Abd Al Basith Muhammad Sayyid, Prof. Dr. Belkheir Hammouti, Ir. Abdu Daim Kaheel, Harun Yahya, Dr. dr. Muhammad Nizar Al Daqr, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><a href="http://syiarislam.files.wordpress.com/2012/01/logoensiquran.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2074" title="logoensiquran" src="http://syiarislam.files.wordpress.com/2012/01/logoensiquran.jpg" alt="" width="500" height="412" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Inilah Buku Ensiklopedia Mukjizat Alquran dan Hadis. Buku ini mengungkap kebenaran Mukjizat Alquran dan Hadis melalui Ilmu Pengetahuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku ini ditulis oleh: Prof. Dr. Musthafa Abdul Mun&#8217;im, Prof. Dr. Abd Al Basith Muhammad Sayyid, Prof. Dr. Belkheir Hammouti, Ir. Abdu Daim Kaheel, Harun Yahya, Dr. dr. Muhammad Nizar Al Daqr, Dr. dr. Mahmud Nazhim Al Nasimi, Prof. Dr. Musthafa Ibrahim Hasan, Prof. Dr. Fudhail Bakar, dkk.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-2547"></span>Penterjemah: Moch. Syarif Hidayatullah, Achmad Atho&#8217;illah, Mahfud Hidayat Lukman, Ahmad Muzayin, Luthfi Arif Alamsyah, Madian M. Mukhlis, dkk.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://syiarislam.files.wordpress.com/2012/01/eziklpedia-muka.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2077" title="Eziklpedia muka" src="http://syiarislam.files.wordpress.com/2012/01/eziklpedia-muka.jpg" alt="" width="500" height="732" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Kata pengantar: Prof. Dr. Moh. Ali MA (Dirjen Pendidikan Islam Depag RI), Drs. HM. Ichwan Sam (Sekum MUI Pusat), KH Hasyim Muzadi (Ketua Umum PB NU), Prof. Dr. Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah).</p>
<p style="text-align: justify;">Alhamdulillah bukunya sangat menarik dan insya Allah bermanfaat.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdiri dari 10 jilid hard cover, berisi 3000 halaman, dilengkapi lebih dari 2.500 gambar dan ilustrasi berwarna, kertas matt paper 150 gram.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://syiarislam.files.wordpress.com/2012/01/eziklpedia-isi.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2078" title="Eziklpedia isi" src="http://syiarislam.files.wordpress.com/2012/01/eziklpedia-isi.jpg" alt="" width="500" height="736" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Harga Rp 3.888.000,-</p>
<p style="text-align: justify;">Pembelian via Syiar Islam/Media Islam dapat diskon 20% sehingga jadi Rp 3.110.400,-</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk pemesanan bisa kirim nama, alamat, dan nomor telpon yang dihubungi ke <a href="mailto:usahamuslim@media-islam.or.id">usahamuslim@media-islam.or.id</a></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk wilayah Jakarta bisa bayar di tempat.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div class="shr-publisher-2547"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F31%2Fjual-buku-ensiklopedia-mukjizat-alquran-dan-hadis%2F' data-shr_title='Jual+Buku+Ensiklopedia+Mukjizat+Alquran+dan+Hadis'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F31%2Fjual-buku-ensiklopedia-mukjizat-alquran-dan-hadis%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F31%2Fjual-buku-ensiklopedia-mukjizat-alquran-dan-hadis%2F' data-shr_title='Jual+Buku+Ensiklopedia+Mukjizat+Alquran+dan+Hadis'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='none' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F31%2Fjual-buku-ensiklopedia-mukjizat-alquran-dan-hadis%2F' data-shr_title='Jual+Buku+Ensiklopedia+Mukjizat+Alquran+dan+Hadis'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-islam.or.id/2012/01/31/jual-buku-ensiklopedia-mukjizat-alquran-dan-hadis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 Amal yang Pahalanya Tidak Terputus</title>
		<link>http://media-islam.or.id/2012/01/25/3-amal-yang-pahalanya-tidak-terputus/</link>
		<comments>http://media-islam.or.id/2012/01/25/3-amal-yang-pahalanya-tidak-terputus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 02:10:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ihsan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-islam.or.id/?p=2544</guid>
		<description><![CDATA[إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ <p style="text-align: justify;">“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)</p> <p style="text-align: justify;">Allah memberi ganjaran sekecil apa pun amal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><h1 align="center">إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ</h1>
<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://syiarislam.files.wordpress.com/2012/01/anakyatim.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2070" title="anakyatim" src="http://syiarislam.files.wordpress.com/2012/01/anakyatim.jpg" alt="" width="270" height="181" /></a>“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah memberi ganjaran sekecil apa pun amal yang kita perbuat. Meski hanya sebesar dzarrah atau debu:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar&#8221; [An Nisaa' 40]</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-2544"></span>Setiap kebaikan yang kita lakukan mulai dari kewajiban seperti sholat, puasa, zakat hingga amal yang sunnah insya Allah akan dibalas Allah pahala yang berlipat ganda.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan ada orang yang karena mampu setiap tahun pergi berhaji atau umrah dengan berharap mendapat pahala yang besar. Sesungguhnya itu baik. Namun sayangnya saat kita meninggal, kita tidak akan mendapat pahala itu lagi. Saat kita mati, terputus amal kita selain 3 amal yang di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu agar pahala kita terus mengalir meski kita telah tiada, hendaknya kita berusaha mengerjakan 3 amal yang di atas. Bagaimana pun kita tidak tahu berapa banyak dosa atau maksiyat yang telah kita perbuat. Berapa banyak orang yang kita sakiti. Jadi kalau pahalanya pas-pasan, bisa jadi akhirnya kita terjerembab ke neraka jahannam.</p>
<h2 style="text-align: justify;">Sedekah Jariyah</h2>
<p style="text-align: justify;">Menurut Imam al-Suyuti (911 H) ada 10 amal yang pahalanya terus menerus mengalir, yaitu: 1) ilmu yang bermanfaat, 2) doa anak sholeh, 3) sedekah jariyah (wakaf), 4) menanam pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan, 5) mewakafkan buku, kitab atau Al Qur’an, 6) berjuang dan membela tanah air, 7) membuat sumur, <img src='http://media-islam.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> membuat irigasi, 9) membangun tempat penginapan bagi para musafir, 10) membangun tempat ibadah dan belajar.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu hanya contoh kecil saja. Tentu saja sedekah jariyah tidak terbatas pada hal yang di atas. Segala hal yang bermanfaat yang bisa dinikmati masyarakat umum seperti membangun jalan, jembatan, website atau TV yang bermanfaat insya Allah pahalanya akan terus mengalir kepada kita selama yang kita bangun itu masih memberikan manfaat.</p>
<p style="text-align: justify;">Menanam pohon mangga atau pohon kurma sehingga buahnya bisa dinikmati atau pun pohon yang rindang seperti pohon Beringin sehingga orang bisa berteduh pun bisa mendapatkan pahala.</p>
<p style="text-align: justify;">Membangun masjid pun pahalanya amat besar dan tetap akan mengalir selama masih ada orang yang memakainya untuk beribadah:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hadits riwayat Usman bin Affan ra: ”Barang siapa yang membangun sebuah masjid karena mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga. (H.R Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<h2 style="text-align: justify;">Ilmu yang Bermanfaat</h2>
<p style="text-align: justify;">Ilmu akan bermanfaat jika kita sendiri terlebih dahulu mengamalkannya. Kemudian kita ajarkan ke orang lain. Jika orang yang kita ajarkan itu juga mengamalkan ilmunya, insya Allah kita akan mendapat pahala meski kita telah tiada.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita bisa menjadi guru, dosen, atau mendirikan sekolah/pesantren sehingga ilmu yang bermanfaat bisa diajarkan ke orang banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Di zaman sekarang ini kita bisa mengajarkan ilmu ke banyak orang sekaligus. Dengan membuat buku yang bermanfaat, kita dapat membayangkan bagaimana kalau ada 1 juta orang yang membaca buku tersebut dan mengamalkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan membuat website yang berisi ilmu yang bermanfaat misalnya website Islam sehingga puluhan ribu orang bisa membaca dan mengamalkan ilmunya, insya Allah juga akan mendapat pahala. Jika ada orang yang meng-copy-paste tulisan anda, jangan sedih. Justru mereka membantu menyebarkan ilmu anda sehingga jika website anda tutup karena anda tidak membayar sewa domain atau hosting, ilmu anda tetap tersebar dan dinikmati orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendirikan TV Islam atau TV Komunitas yang bisa memberikan ilmu yang bermanfaat pun insya Allah akan mendapat pahala.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana jika kita bukan orang yang pintar atau ilmu kita cetek? Jangan sedih. Dengan membantu ulama sehingga ilmunya tersebar, membantu penerbitan buku yang bermanfaat, membantu pembuatan dan pemeliharaan website atau TV Islam juga bisa membuat anda ikut mendapat pahala. Karena Allah menghitung setiap amal yang kita lakukan sekecil apa pun amal itu!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al Maa-idah 2]</strong></p>
<p>Rasulullah saw. bersabda:</p>
<h1>عن أبي موسى الأشعري ـ رضي الله عنه ـ عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال : ” المؤمن للمؤمن كالبنيان ، يشد بعضه بعضاً ، ثم شبك بين أصابعه ، وكان النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ جالساً ، إذ جاء رجل يسأل ، أو طالب حاجة أقبل علينا بوجهه ، فقال : اشفعوا تؤجروا ، ويقضي الله على لسان نبيه ما شاء ” . رواه البخاري ، ومسلم ، والنسائي</h1>
<p><strong>Dari Abu Musa Al Asy’ari ra. dari Nabi Muhammad saw bersabda:</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Kemudian Nabi Muhammad menggabungkan jari-jari tangannya. Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki meminta bantuan. Nabi hadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Tolonglah dia, maka kamu akan mendapatkan pahala. Dan Allah menetapkan lewat lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki.” Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i.</strong></p>
<h1 style="text-align: justify;">مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ</h1>
<p style="text-align: justify;"><strong>Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. [HR Muslim, 3509]. </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi jika kita turut andil dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat, insya Allah, Allah akan melihatnya.</p>
<h2 style="text-align: justify;">Anak Soleh yang Mendoakannya</h2>
<p style="text-align: justify;">Jika kita punya anak soleh yang mendoakan kita, insya Allah kita akan mendapat pahala juga karena kita telah berjasa mendidik mereka sehingga jadi anak yang saleh.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu jika kita diamanahi anak oleh Allah, hendaknya kita didik mereka sebaik mungkin hingga jadi anak yang saleh. Seorang ibu jangan ragu untuk meninggalkan pekerjaannya di kantor agar bisa fokus mendidik anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu bagaimana jika kita tidak punya anak kandung?</p>
<p style="text-align: justify;">Di situ tidak dijelaskan apakah anak saleh itu anak kandung atau bukan. Jadi jika kita memelihara anak yatim pun kita tetap akan dapat pahala jika mereka jadi anak yang saleh dan mendoakan kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dari Abu Ummah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang membelai kepala anak yatim karena Allah SWT, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang diusap. Dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan lelaki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah SAW mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Hadis riwayat Ahmad)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dari situ jelas bahwa orang yang memelihara anak yatim dengan penuh kasih sayang insya Allah akan masuk surga. Surganya pun bukan surga tingkat rendah. Tapi surga tingkat tinggi karena berada di dekat Nabi Muhammad SAW laksana jari telunjuk dengan jari tengah.</p>
<p style="text-align: justify;">Paling tidak jika ada anak dari saudara kita atau sepupu kita, santuni mereka. Bantu mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Menyumbang ke keluarga miskin yang ada anaknya pun atau panti asuhan insya Allah bisa mendapatkan pahala.</p>
<p style="text-align: justify;">Referensi:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3393-terputusnya-amalan-kecuali-tiga-perkara.html">http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3393-terputusnya-amalan-kecuali-tiga-perkara.html</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://uripsantoso.wordpress.com/2009/08/07/tiga-amalan-yang-tak-lekang/">http://uripsantoso.wordpress.com/2009/08/07/tiga-amalan-yang-tak-lekang/</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://alhikmah.ac.id/2011/kuatkan-kerjasama-laksana-satu-bangunan/">http://alhikmah.ac.id/2011/kuatkan-kerjasama-laksana-satu-bangunan/</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://almanhaj.or.id/content/3035/slash/0">http://almanhaj.or.id/content/3035/slash/0</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://penilaipbb.blogspot.com/2011/10/anak-yatim.html">http://penilaipbb.blogspot.com/2011/10/anak-yatim.html</a></p>
<div class="shr-publisher-2544"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F25%2F3-amal-yang-pahalanya-tidak-terputus%2F' data-shr_title='3+Amal+yang+Pahalanya+Tidak+Terputus'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F25%2F3-amal-yang-pahalanya-tidak-terputus%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F25%2F3-amal-yang-pahalanya-tidak-terputus%2F' data-shr_title='3+Amal+yang+Pahalanya+Tidak+Terputus'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='none' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F25%2F3-amal-yang-pahalanya-tidak-terputus%2F' data-shr_title='3+Amal+yang+Pahalanya+Tidak+Terputus'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-islam.or.id/2012/01/25/3-amal-yang-pahalanya-tidak-terputus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ciri Khawarij: Tak Mengamalkan Al Qur&#8217;an dan Membunuh Muslim</title>
		<link>http://media-islam.or.id/2012/01/19/ciri-khawarij-tak-mengamalkan-al-quran-dan-membunuh-muslim/</link>
		<comments>http://media-islam.or.id/2012/01/19/ciri-khawarij-tak-mengamalkan-al-quran-dan-membunuh-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 09:15:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aliran Sesat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-islam.or.id/?p=2524</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)</p> <p style="text-align: justify;">Satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada <strong>orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala</strong>. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)</p>
<p style="text-align: justify;">Satu dari ciri kaum Khawarij menurut Nabi Muhammad adalah mereka membaca Al Qur&#8217;an dan Hadits, namun tidak diamalkan. Ucapannya tidak melampaui kerongkongan mereka. Hanya di mulut saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:<br />
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. <strong>Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka</strong>. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-2524"></span></p>
<h1>سيخرج في آخر الزمان قوم أحدث الأسنان سفهاء الأحلام</h1>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda, dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca Al Qur&#8217;an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<h1>يخرج قوم من أمتي يقرئون القرآن يحسبون لهم وهو عليهم لاتجاوز صلاتهم تراقيهم</h1>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;Suatu kaum dari umatku akan keluar membaca Al Qur&#8217;an, mereka mengira bacaan Al-Qur&#8217;an itu menolong dirinya padahal justru membahayakan dirinya. Shalat mereka tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka.&#8221; (HR. Muslim)</strong></p>
<h1>يحسنون القيل ويسيئون الفعل يدعون إلى كتاب الله وليسوا منه في شيء</h1>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;Mereka baik dalam berkata tapi jelek dalam berbuat, mengajak untuk mengamalkan kitab Allah padahal mereka tidak menjalankannya sedikitpun.&#8221; (HR. Al-Hakim)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai ayat Al Qur&#8217;an dan Hadits mereka pakai, namun kesimpulan lain yang mereka dapat dan amalkan. Berbagai caci-maki terhadap sesama Muslim seperti Ahlul Bid&#8217;ah, Sesat, Kafir dan sebagainya terlontar dari mulut mereka. Jangankan ulama, Nabi saja mereka anggap sesat. Bahkan Khalifah Ali mereka bunuh karena mereka anggap kafir.</p>
<p style="text-align: justify;">Kafirnya Khawarij bukan karena aqidahnya sesat atau karena ibadahnya penuh bid&#8217;ah. Aqidah dan ibadahnya bersih. Namun sikap mereka yang mengkafirkan Muslim lain itulah yang mengakibatkan mereka jadi kafir. Keluar dari Islam. Khawarij artinya orang-orang yang keluar (dari Islam).</p>
<p style="text-align: justify;">Kelompok Khawarij ini tak segan-segan menista ummat Islam yang berbeda pendapat dengan mereka dengan berbagai sebutan yang mereka sendiri tidak suka. Padahal itu dilarang oleh Allah SWT:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [Al Hujuraat 11-12]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran” (Bukhari no.46,48, muslim no. .64,97, Tirmidzi no.1906,2558, Nasa’I no.4036, 4037, Ibnu Majah no.68, Ahmad no.3465,3708)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat Al Qur&#8217;an dan hadits di atas sering mereka ucapkan. Namun sering pula mereka langgar sehingga mereka mengumpat dan bersangka buruk terhadap sesama Muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika diingatkan dengan enteng mereka berdalih: &#8220;Ah mereka bukan Muslim!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak pantas bagi seorang Muslim untuk mudah menganggap sesat atau mengkafirkan sesama Muslim yang masih sholat dan mengucapkan 2 kalimat syahadah. Jika begitu, maka mereka itu lemah imannya atau mungkin justru tidak punya iman:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tiga perkara berasal dari iman: (1) Tidak mengkafirkan orang yang mengucapkan “Laailaaha illallah” karena suatu dosa yang dilakukannya atau mengeluarkannya dari Islam karena sesuatu perbuatan</strong>; (2) Jihad akan terus berlangsung semenjak Allah mengutusku sampai pada saat yang terakhir dari umat ini memerangi Dajjal tidak dapat dirubah oleh kezaliman seorang zalim atau keadilan seorang yang adil; (3) Beriman kepada takdir-takdir. (HR. Abu Dawud)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar.</strong> Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)</p>
<p style="text-align: justify;">Di saat Usamah, sahabat Rasulullah saw, membunuh orang yang sedang mengucapkan, “Laa ilaaha illallaah, ” Nabi menyalahkannya dengan sabdanya, “Engkau bunuh dia, setelah dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah.” <strong>Usamah lalu berkata, “Dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah karena takut mati.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kamu mengetahui isi hatinya?”</strong> [HR Bukhari dan Muslim]</p>
<p style="text-align: justify;">Lihat hadits di atas saat Usamah berkilah: &#8220;Ah dia berpura2&#8243; Ah dia taqiyah! Ah dia berbohong. Tidak pantas kita berdalih seperti itu karena kita manusia tidak tahu isi hati mereka. Kita hanya bisa menilai zahir lisan, tulisan, dan perbuatan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski mengkafirkan sesama Muslim itu resikonya sangat berat, kaum Khawarij selalu menemukan cara untuk itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Zar r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang memanggil orang lain dengan sebutan kekafiran atau berkata bahwa orang itu musuh Allah, padahal yang dikatakan sedemikian itu sebenarnya tidak, melainkan kekafiran itu kembalilah pada dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apabila ada seseorang berkata kepada saudaranya -sesama Muslimnya-: “Hai orang kafir,” maka salah seorang dari keduanya -yakni yang berkata atau dikatakan- kembali dengan membawa kekafiran itu. Jikalau yang dikatakan itu benar-benar sebagaimana yang orang itu mengucapkan, maka dalam orang itulah adanya kekafiran, tetapi jikalau tidak, maka kekafiran itu kembali kepada orang yang mengucapkannya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka gemar berdusta dan mengadu-domba sesama Muslim meski tahu dosanya amat besar:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Allah Ta’ala berfirman: “Jangan pula engkau mematuhi orang yang suka mencela, berjalan membuat adu domba.” (al-Qalam: 11)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dari Hudzaifah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak dapat masuk syurga seorang yang gemar mengadu domba.” (Muttafaq ‘alaih)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. berjalan melalui dua buah kubur, lalu bersabda: “Sesungguhnya kedua orang yang mati ini disiksa, tetapi tidaklah mereka disiksa karena kesalahan besar. Ya, tetapi sebenarnya besar juga -bila dilakukan secara terus menerus-. Adapun yang seorang diantara keduanya itu dahulunya -ketika di dunia- suka berjalan dengan melakukan adu domba, sedang yang lainnya, maka ia tidak suka menghabiskan sama sekali dari kencingnya -yakni di waktu kencing kurang memperdulikan kebersihan serta kesucian dari najis-.” Muttafaq ‘alaih. Ini adalah lafaz dari salah satu riwayat Imam Bukhari. Para ulama berkata bahwa maknanya: “Tidaklah mereka itu disiksa karena melakukan kesalahan yang besar,” yakni bukan kesalahan besar menurut anggapan kedua orang tersebut. Ada yang mengatakan bahwa itu merupakan hal besar -berat- baginya untuk meninggalkannya.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Tahukah engkau semua, apakah kedustaan besar itu? Yaitu Namimah atau banyak bicara adu domba antara para manusia.” (Riwayat Muslim) Al’adhha dengan fathahnya ‘ain muhmalah dan sukunnya dhad mu’jamah dan dengan ha’ menurut wazan Alwajhu. Ada yang mengatakan Al’idhatu dengan kasrahnya ‘ain dan fathahnya dhad mu’jamah menurut wazan Al’idatu, artinya ialah kedustaan serta kebohongan besar. Menurut riwayat pertama, maka al’adhhu adalah mashdar, dikatakan: ‘adhahahu ‘adhhan artinya melemparnya dengan kedustaan atau pengadu-dombaan.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Meski Allah dan RasulNya memerintahkan ummat Islam bersatu, namun kaum Khawarij ini meski sering mengutip ayat dan hadits tentang itu selalu memecah-belah persatuan ummat Islam dengan berbagai dalih. Mereka merasa hanya merekalah yang benar. Yang lain sesat atau kafir:</p>
<p style="text-align: justify;">“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar Ruum:32]</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka gemar berbantah-bantahan panjang lebar hanya untuk menimbulkan fitnah dan melemahkan kekuatan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al Anfaal 46]</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://media-islam.or.id/2011/03/13/ummat-islam-itu-satu-dan-jangan-berpecah-belah">http://media-islam.or.id/2011/03/13/ummat-islam-itu-satu-dan-jangan-berpecah-belah</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknya meski mengaku ingin berpegang pada sunnah, namun dengan bersahabat dengan kaum Yahudi dan Nasrani dan menganggap kaum tersebut lebih baik daripada sesama Muslim, mereka ingkar Al Qur’an. Ingkar kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang yang beriman tidak akan mengambil kaum Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [Al Maa-idah 51]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hanya orang munafik yang dekat dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang saat ini tengah memusuhi Islam dan membantai ummat Islam:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” [Al Maa-idah 52]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kelompok Khawarij ini boleh dikata sebagian besar menghabiskan waktunya untuk menyakiti ummat Islam baik dengan lisan, tulisan, bahkan pedang. Para penyembah berhala atau orang-orang kafir justru aman dari kejahatan mereka sebagaimana sabda Nabi Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya:</p>
<p style="text-align: justify;">Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:<br />
Ali ra. yang sedang berada di Yaman, mengirimkan emas yang masih dalam bijinya kepada Rasulullah saw., kemudian Rasulullah saw. membagikannya kepada beberapa orang, Aqra` bin Habis Al-Hanzhali, Uyainah bin Badr Al-Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al-Amiri, seorang dari Bani Kilab, Zaidul Khair At-Thaiy, seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata: Apakah baginda memberi para pemimpin Najed, dan tidak memberikan kepada kami? Rasulullah saw. bersabda: Aku melakukan itu adalah untuk mengikat hati mereka. Kemudian datang seorang lelaki yang berjenggot lebat, kedua tulang pipinya menonjol, kedua matanya cekung, jidatnya jenong dan kepalanya botak. Ia berkata: Takutlah kepada Allah, ya Muhammad! Rasulullah saw. bersabda: Siapa lagi yang taat kepada Allah jika aku mendurhakai-Nya? Apakah Dia mempercayai aku atas penduduk bumi, sedangkan kamu tidak mempercayai aku? Lalu laki-laki itu pergi. Seseorang di antara para sahabat minta izin untuk membunuh laki-laki itu (diriwayatkan bahwa orang yang ingin membunuh itu adalah Khalid bin Walid), tetapi Rasulullah saw. bersabda: <em>Sesungguhnya diantara bangsaku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala.</em> Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://syiarislam.wordpress.com/2012/01/16/kadang-kebenaran-tidak-hanya-satu/">http://syiarislam.wordpress.com/2012/01/16/kadang-kebenaran-tidak-hanya-satu/</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kita mungkin terkagum-kagum pada ayat-ayat Al Qur&#8217;an dan Hadits-hadits Nabi yang dibawakan oleh kaum Khawarij tersebut, namun itu semua tidak mereka amalkan. Bahkan mereka injak-injak. Mereka bersikap keras dan zalim terhadap sesama Islam dan justru lemah-lembut terhadap orang-orang kafir harbi.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://media-islam.or.id/2011/11/30/haram-berteman-dengan-kafir-harbi-dan-membunuh-sesama-muslim/">http://media-islam.or.id/2011/11/30/haram-berteman-dengan-kafir-harbi-dan-membunuh-sesama-muslim/</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kaum Khawarij ini seperti kaum Yahudi yang akan dilempar masuk neraka karena hanya bicara tanpa melakukan apa yang dia ucapkan:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?&#8221; [Al Baqarah 44] </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pada hari kiamat seorang dihadapkan dan dilempar ke neraka. Orang-orang bertanya, “Hai Fulan, mengapa kamu masuk neraka sedang kamu dahulu adalah orang yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah perbuatan mungkar?” Orang tersebut menjawab, “Ya benar, dahulu aku menyuruh berbuat ma’ruf, sedang aku sendiri tidak melakukannya. Aku mencegah orang lain berbuat mungkar sedang aku sendiri melakukannya.” (HR. Muslim)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kaum Khawarij ini berpendapat hanya ada 1 kebenaran, yaitu pendapat mereka dan memaksakan kehendaknya kepada yang lain. Padahal dalam Islam itu ada dikenal Khilafiyah atau beda pendapat. Oleh karena itulah ada 4 Madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi&#8217;ie, dan Hambali. Semua madzhab itu benar. Tidak ada yang salah. Dan Imam Malik juga menolak saat Sultan Harun Al Rasyid meminta agar Madzhab Maliki dipakai sebagai satu-satunya Madzhab di negara Islam. Beliau khawatir nanti di tempat lain yang memakai madzhab lain bisa berontak.</p>
<p style="text-align: justify;">Di zaman Nabi pun para sahabat biasa berbeda pendapat:</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin Khattab berkata: “Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat Al-Furqan di masa hidupya Rasulullah SAW, aku mendengar bacaannya, tiba-tiba ia membacanya dengan beberapa huruf yang belum pernah Rasulullah SAW membacakannya kepadaku sehingga aku hampir beranjak dari shalat, kemudian aku menunggunya sampai salam. Setelah ia salam aku menarik sorbannya dan bertanya: “Siapa yang membacakan surat ini kepadamu?”. Ia menjawab: “Rasulullah SAW yang membacakannya kepadaku”, aku menyela: “Dusta kau, Demi Allah sesungguhnya Rasulullah SAW telah membacakan surat yang telah kudengar dari yang kau baca ini”.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu aku pergi membawa dia menghadap Rasulullah SAW lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah aku telah mendengar lelaki ini, ia membaca surat Al-Furqan dengan beberapa huruf yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, sedangkan engkau sendiri telah membacakan surat Al-Furqan ini kepadaku”. Rasulullah SAW menjawab: “Hai Umar! lepaskan dia. “Bacalah Hisyam!”. Kemudian ia membacakan bacaan yang tadi aku dengar ketika ia membacanya. Rasululllah SAW bersabda: “Begitulah surat itu diturunkan” sambil menyambung sabdanya: “Bahwa Al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf maka bacalah yang paling mudah!”.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam satu riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW mendengarkan pula bacaan sahabat Umar r.a. kemudian beliau bersabda: “Begitulah bacaan itu diturunkan”.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat berbeda pun dalam berpuasa di perjalanan para sahabat tidak saling cela. Ada yang berbuka, ada pula yang tetap berpuasa:</p>
<p style="text-align: justify;">Anas bin Maalik berkata: “Kami sedang bermusafir bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam semasa Ramadhan dan di kalangan kami ada yang berpuasa, ada yang tidak berpuasa. Golongan yang berpuasa tidak menyalahkan orang yang tidak berpuasa dan golongan yang tidak berpuasa tidak menyalahkan orang yang berpuasa. [ hadist riwayat Bukhari and Muslim]</p>
<p style="text-align: justify;">Dari situ kita tahu bahwa kebenaran itu KADANG-KADANG tidak hanya satu. Bisa 2 bahkan 7 seperti cara membaca Al Qur&#8217;an di atas. Nabi membenarkan mereka semua dan tidak mencela salah satu kelompok. Jika dipaksakan hanya satu meski yang lain tidak suka, maka akan timbul perpecahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciri Khawarij lainnya adalah akhlak yang buruk. Nabi dan ummat Islam yang baik memiliki akhlak yang mulia. Penuh kasih sayang. Bukan kekejian:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. &#8221; [Al Anbiyaa' 107]</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad itu diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bazzaar)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya. (HR. Ar-Ridha)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknya orang yang akhlaknya rendah, keji, dan suka bermusuhan adalah orang yang dibenci Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sesungguhnya Allah membenci orang yang keji, yang berkata kotor dan membenci orang yang meminta-minta dengan memaksa. (AR. Ath-Thahawi)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Orang yang paling dibenci Allah ialah yang bermusuh-musuhan dengan keji dan kejam. (HR. Bukhari)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi jika kita ikut pengajian, tapi gurunya akhlaknya buruk dan kita pun jadi kasar, niscaya itu pengajian yang sesat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang ada orang yang merasa berjihad/mujahid, namun akhlaknya kasar dan sombong. Tidak punya adab. Ada yang suka menghina sesama Muslim bahkan ulama. Seolah-olah dia yang mempunyai surga. Padahal Nabi yang merupakan Mujahid Agung akhlaknya sangat sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi itulah beberapa ciri kaum Khawarij yang sebetulnya jika kita tidak taqlid dan membaca Al Qur&#8217;an dan Hadits dengan cerdas, mereka itu meski dalihnya menghidupkan Sunnah, pada dasarnya Ingkar Al Qur&#8217;an dan Ingkar Sunnah.</p>
<p style="text-align: justify;">Referensi:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.dakwatuna.com/2008/10/1295/khawarij-dan-sifat-sifatnya/#ixzz1jsDLFG6u">http://www.dakwatuna.com/2008/10/1295/khawarij-dan-sifat-sifatnya/#ixzz1jsDLFG6u</a></p>
<div class="shr-publisher-2524"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F19%2Fciri-khawarij-tak-mengamalkan-al-quran-dan-membunuh-muslim%2F' data-shr_title='Ciri+Khawarij%3A+Tak+Mengamalkan+Al+Qur%27an+dan+Membunuh+Muslim'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F19%2Fciri-khawarij-tak-mengamalkan-al-quran-dan-membunuh-muslim%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F19%2Fciri-khawarij-tak-mengamalkan-al-quran-dan-membunuh-muslim%2F' data-shr_title='Ciri+Khawarij%3A+Tak+Mengamalkan+Al+Qur%27an+dan+Membunuh+Muslim'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='none' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F19%2Fciri-khawarij-tak-mengamalkan-al-quran-dan-membunuh-muslim%2F' data-shr_title='Ciri+Khawarij%3A+Tak+Mengamalkan+Al+Qur%27an+dan+Membunuh+Muslim'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-islam.or.id/2012/01/19/ciri-khawarij-tak-mengamalkan-al-quran-dan-membunuh-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rekomendasi MUI Tentang Syi&#8217;ah</title>
		<link>http://media-islam.or.id/2012/01/11/rekomendasi-mui-tentang-syiah/</link>
		<comments>http://media-islam.or.id/2012/01/11/rekomendasi-mui-tentang-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 03:05:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aliran Sesat]]></category>
		<category><![CDATA[Syi'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-islam.or.id/?p=2530</guid>
		<description><![CDATA[Berikut Rekomendasi MUI (bukan Fatwa) tentang Syi&#8217;ah: Faham Syiah بسم اللّه الرحمن الرحيم <p style="text-align: justify;">Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi&#8217; ah sebagai berikut: Faham Syi&#8217;ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><h1 style="text-align: justify;">Berikut Rekomendasi MUI (bukan Fatwa) tentang Syi&#8217;ah:<br />
Faham Syiah</h1>
<h1 style="text-align: justify;">بسم اللّه الرحمن الرحيم</h1>
<p style="text-align: justify;">Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi&#8217; ah sebagai berikut:<br />
Faham Syi&#8217;ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm&#8217;ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.<br />
Perbedaan itu di antaranya :<br />
<span id="more-2530"></span>1. Syi&#8217;ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan Ahlu Sunnah wal Jama&#8217;ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.<br />
2. Syi&#8217;ah memandang &#8220;Imam&#8221; itu ma &#8216;sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).<br />
3. Syi&#8217;ah tidak mengakui Ijma&#8217; tanpa adanya &#8220;Imam&#8221;, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama&#8217; ah mengakui Ijma&#8217; tanpa mensyaratkan ikut sertanya &#8220;Imam&#8221;.<br />
4. Syi&#8217;ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da&#8217;wah dan kepentingan umat.<br />
5. Syi&#8217;ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah mengakui keempat Khulafa&#8217; Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).<br />
Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi&#8217;ah dan Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang &#8220;Imamah&#8221; (pemerintahan)&#8221;, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi&#8217;ah<br />
Ditetapkan : Jakarta, 7 Maret 1984 M<br />
4 Jumadil Akhir 1404 H<br />
KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA<br />
Ketua<br />
ttd<br />
Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML<br />
Sekretaris<br />
ttd<br />
H. Musytari Yusuf, LA<br />
Sumber: <a href="http://mui.or.id/index.php?option=com_docman&amp;task=search_result&amp;Itemid=73">http://mui.or.id/index.php?option=com_docman&amp;task=search_result&amp;Itemid=73</a><br />
Fatwa MUI/Bidang Aqidah dan Aliran Keagamaan<br />
<a href="http://faisalchoir.blogspot.com/2011/12/fatwa-mui-tentang-syiah.htm">http://faisalchoir.blogspot.com/2011/12/fatwa-mui-tentang-syiah.htm</a></p>
<p style="text-align: justify;">Meski masyarakat banyak yang mengira tulisan di atas Fatwa, namun bukan. Itu rekomendasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut penjelasan dari beberapa Ketua MUI:<br />
<a href="http://www.sabili.co.id/indonesia-kita/mui-tak-punya-fatwa-sesat-tentang-syiah">http://www.sabili.co.id/indonesia-kita/mui-tak-punya-fatwa-sesat-tentang-syiah</a></p>
<h1 style="text-align: justify;">MUI Tak Punya Fatwa Sesat tentang Syiah</h1>
<p style="text-align: justify;">JUMAT, 10 JUNI 2011 16:49 DWI HARDIANTO<br />
Namun, sampai saat ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai kumpulan ulama yang mayoritas berpaham Sunni, tidak memiliki fatwa kesesatan Syiah.<br />
&#8220;Pada tahun 1984, MUI hanya mengeluarkan himbauan paham Syiah. Yang Saat itu ditandatangani oleh Prof Ibrahim Hosen,&#8221; papar Ketua MUI KH Kholil Ridwan pada diskusi tentang ajaran Syiah di Masjid Al-Furqan, Komplek Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Kramat Raya, Jakarta (10/6/2011).<br />
Dikatakan Kholil, anggota MUI bersifat heterogen sehingga banyak kepentingan yang diakomodir, salah satunya ada yang membela kepentingan Syiah. &#8221;Di MUI ada ulama yang membela kepentingan Syiah sehingga tidak ada fatwa sesat Syiah,&#8221; katanya.<br />
====</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.metrotvnews.com/index.php/read/newsvideo/2012/01/01/142507/MUI-Syiah-Tak-Sesat/3">http://www.metrotvnews.com/index.php/read/newsvideo/2012/01/01/142507/MUI-Syiah-Tak-Sesat/3</a></p>
<h1 style="text-align: justify;">MUI: Syiah Tak Sesat</h1>
<p style="text-align: justify;">Nasional / Minggu, 1 Januari 2012 16:01 WIB<br />
Metrotvnews.com, Jakarta:Majelis Ulama Indonesia (MUI) tak pernah memberi fatwa ajaran Syiah adalah sesat. MUI bahkan menyayangkan peristiwa pembakaran pondok pesantren Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur.<br />
&#8220;Saya katakan, MUI berprinsip pertama, Mazhab Syiah tidak sesat. Karena ada yang mengatakan Syiah sesat. kedua, mazhab Ahl As-sunnah wal Jamaah (Sunni) dan Syiah adalah mazhab besar dalam dunia Islam. Bahkan, dalam pertemuan internasional yang dihadiri ulama Sunni juga dihadiri ulama Syiah,&#8221; kata Ketua MUI Umar Shihab di Jakarta, Ahad (1/1)<br />
=====<br />
Pandangan FPI (Front Pembela Islam) soal Syi&#8217;ah dan Wahabi. Patut diketahui, menurut Ustad Arifin Ilham, Habib Rizieq Syihab ternyata seorang DOKTOR di bidang Ilmu Syari&#8217;ah. Jadi ilmu beliau cukup dalam. Beliau juga pengurus organisasi Keturunan Ahlul Bait Rabithoh yang meski mayoritas Sunni, namun ada juga Syi&#8217;ah yang minoritas. Jadi tahu langsung soal Syi&#8217;ah dari penganutnya. Bukan dari katanya..katanya… atau sekedar copy paste dari internet:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://fpi.or.id/?p=detail&amp;nid=98">http://fpi.or.id/?p=detail&amp;nid=98</a></p>
<h1 style="text-align: justify;">Sikap FPI Terhadap SYI&#8217;AH Dan WAHABI</h1>
<p style="text-align: justify;">SENIN, 15 FEBRUARI 2010 | 16:43 WIB<br />
Sehubungan dengan bermunculan beragam macam pertanyaan bahkan fitnah dan tuduhan dalam berbagai blog mau pun facebook di dunia maya tentang aqidah FPI, ditambah lagi banyaknya desakan dari berbagai pihak agar FPI menyampaikan sikapnya secara terbuka tentang SYI&#8217;AH dan WAHABI. Maka kami redaksi <a href="http://fpi.or.id/">fpi.or.id</a> berinisiatif untuk menukilkan pernyataan Ketua Umum FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab, MA, saat DIKLAT Sehari FPI di akhir tahun 2009 yang lalu berkaitan dengan ASASI PEJUANGAN FPI yang terkait asas, aqidah, dan madzhab Organisasi.<br />
FPI adalah organisasi AMAR MA&#8217;RUF NAHI MUNKAR yang berasaskan ISLAM dan ber-aqidahkan AHLUS SUNNAH WAL JAMA&#8217;AH serta bermadzhab fiqih SYAFI&#8217;I. Jadi, FPI bukan SYI&#8217;AH atau pun WAHABI.</p>
<h2 style="text-align: justify;">SYI&#8217;AH</h2>
<p style="text-align: justify;">Pandangan FPI terhadap SYI&#8217;AH sebagai berikut : FPI membagi Syi&#8217;ah dengan semua sektenya menjadi TIGA GOLONGAN ; Pertama, SYI&#8217;AH GHULAT yaitu Syi&#8217;ah yang menuhankan/menabikan Ali ibn Abi Thalib RA atau meyakini Al-Qur&#8217;an sudah di-TAHRIF (dirubah/ditambah/dikurangi), dan sebagainya dari berbagai keyakinan yang sudah menyimpang dari USHULUDDIN yang disepakati semua MADZHAB ISLAM. Syi&#8217;ah golongan ini adalah KAFIR dan wajib diperangi.<br />
Kedua, SYI&#8217;AH RAFIDHOH yaitu Syi&#8217;ah yang tidak berkeyakinan seperti Ghulat, tapi melakukan penghinaan/penistaan/pelecehan secara terbuka baik lisan atau pun tulisan terhadap para Sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar RA dan Umar RA atau terhadap para isteri Nabi SAW seperti &#8216;Aisyah RA dan Hafshah RA. Syi&#8217;ah golongan ini SESAT, wajib dilawan dan diluruskan.<br />
Ketiga, SYI&#8217;AH MU&#8217;TADILAH yaitu Syi&#8217;ah yang tidak berkeyakinan Ghulat dan tidak bersikap Rafidhah, mereka hanya mengutamakan Ali RA di atas sahabat yang lain, dan lebih mengedapankan riwayat Ahlul Bait daripada riwayat yang lain, secara ZHOHIR mereka tetap menghormati para sahabat Nabi SAW, sedang BATHIN nya hanya Allah SWT Yang Maha Tahu, hanya saja mereka tidak segan-segan mengajukan kritik terhadap sejumlah sahabat secara ilmiah dan elegan. Syi&#8217;ah golongan inilah yang disebut oleh Prof. DR. Muhammad Sa&#8217;id Al-Buthi, Prof. DR. Yusuf Qardhawi, Prof. DR. Wahbah Az-Zuhaili, Mufti Mesir Syeikh Ali Jum&#8217;ah dan lainnya, sebagai salah satu Madzhab Islam yang diakui dan mesti dihormati. Syi&#8217;ah golongan ketiga ini mesti dihadapi dengan DA&#8217;WAH dan DIALOG bukan dimusuhi.</p>
<h2 style="text-align: justify;">&#8230;</h2>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, FPI sangat MENGHARGAI PERBEDAAN, tapi FPI sangat MENENTANG PENYIMPANGAN. Oleh karena itu semua, FPI menyerukan kepada segenap Umat Islam agar menghentikan/membubarkan semua majelis/mimbar mana saja yang secara terbuka melecehkan/menghina/menistakan Ahlul Bait dan Shahabat Nabi SAW atau menyebarluaskan berbagai KESESATAN atau melakukan PENODAAN terhadap agama, lalu menyeret para pelakunya ke dalam proses hukum dengan tuntutan PENISTAAN AGAMA. (redaksi <a href="http://fi.or.id/adie">fi.or.id/adie</a>)<br />
<a href="http://fpi.or.id/adie">fpi.or.id/adie</a><br />
====</p>
<h1 style="text-align: justify;">Beda Syi&#8217;ah dengan Alawiy</h1>
<p style="text-align: justify;">Hidayatullah.com. Adanya sebagian dari kalangan alawiyin (Arab keturunan sayyid yang menisbatkan diri sebagai keturuan Rasulullah SAW dari jalur Fatimah Ra) yang menganut Syi&#8217;ah, menimbulkan persepsi sebagian masyarakat, bahwa kaum alawiyin atau habaib identik dengan Syi&#8217;ah.<br />
Namun, anggapan ini dibantah oleh Rabithah Alawiyah, satu-satunya organisasi resmi kalangan alawiyyin di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1928 di Jakarta. Salah seorang ketua Rabithah yang juga Ketua Umum Front Pembela Islam, Habib Muhammad Rizieq Shihab menjelaskannya secara singkat saat Suara Hidayatullah mengunjunginya di rumah tahanan Polda Metro Jaya, awal Maret lalu.<br />
&#8220;Jangan samakan alawiyyin dengan Syi&#8217;ah. Itu menyinggung semua habaib, karena tidak semua habaib itu Syi&#8217;ah. Ana (saya) bukan Syi&#8217;ah,&#8221; jawab Rizieq.<br />
Memang, ada sebagian habaib yang menganut Syi&#8217;ah, tapi prosentasenya sangat kecil, tidak sampai sepuluh persen. Pengurus Rabithah sendiri, kata Rizieq, bebas dari Syi&#8217;ah. Semuanya Sunni.<br />
Rizieq menjelaskan, alawiyyin terbagi menjadi dua, yakni alawiyyin nasaban dan alawiyyin madzhaban. Alawiyyin madzhaban itu yang Syiah. Mereka bermadzhab Alawiy. Sedang alawiyyin nasaban, yakni nasabnya atau silsilahnya dari Ali bin Abi Thalib Ra. yang bermadzhab Syafi&#8217;i. Yang berasal dari Hadramaut, Yaman, termasuk alawiyyin nasaban.<br />
Meski demikian, kata Rizieq, secara nasab sebagian pengikut Syi&#8217;ah tadi memang alawiy. Mereka memang berasal dari Hadramaut tapi tidak secara langsung hijrah ke Indonesia. Sebagian mereka hijrah dahulu ke Irak ataupun Iran sebelum berlabuh di Indonesia.<br />
&#8230;<br />
Menurut Rizieq, Rabithah mengambil sikap dialogis menanggapi para alawiyyin Syi&#8217;ah tersebut. Tidak konfrontif. Hal ini dikarenakan para alawiyyin Syi&#8217;ah tersebut termasuk keluarga besar alawyyin di bawah naungan Rabithah. Sehingga mereka punya hak untuk untuk diperhatikan, diajak dialog, dibina, dan diayomi. Laporam mereka yang merasa diancam oleh kalangan Sunni juga ditampung Rabithah.<br />
Meski demikian, kata Rizieq, Rabithah juga meminta kalangan Syi&#8217;ah untuk introspeksi diri. &#8220;Adanya aksi anarkis disebabkan aksi dari kalangan Syi&#8217;ah yang membuat selebaran, buku, yang menyinggung hal yang sangat sensitif bagi Ahlus Sunnah. Seperti soal Abu Bakar, Umar bin Khatab, Ustman bin Affan, juga tentang istri-istri nabi, Aisyah dan Hafsah.&#8221;<br />
Sebagai ketua FPI, meski masih bersedia dialog dengan kalangan Syi&#8217;ah, Rizieq punya garis tegas mengenai masalah Syi&#8217;ah. Suatu hal yang katanya sering ia sampaikan kepada anggota FPI dan di hadapan habaib Syi&#8217;ah sendiri. &#8220;Kalau ada dai-dai di atas mimbar mencaci maki ahlul bait atau sahabat Nabi, turunkan! Bakar mimbarnya! Ana nggak mau tahu, mau Syi&#8217;ah kek, wahabi kek. Caci maki sahabat, caci maki ahlul bait, berarti musuh ana&#8221;. *Surya Fachrizal/Suara Hidayatullah<br />
<a href="http://majalah.hidayatullah.com/?p=262">http://majalah.hidayatullah.com/?p=262</a><br />
===</p>
<h1 style="text-align: justify;">Pendapat Habib Munzir Al Musawwa dari Majelis Rasulullah tentang Syi&#8217;ah dan Salafi Wahabi:</h1>
<p style="text-align: justify;">2. sebagian besar kaum syiah memvonis para sahabat sebagai para pengkhianat pada Nabi saw. termasuk Abubakar Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Aisyah ummulmukminin ra, dan masih banyak lagi, dan mereka pun menghalalkan Mut&#8217;ah (kawin kontrak) yg suidah diharamkan oleh Rasul saw, dan masih banyak lagi penyimpangan kaum syiah..<br />
<a href="http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=5&amp;func=view&amp;id=957&amp;catid=7">http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=5&amp;func=view&amp;id=957&amp;catid=7</a></p>
<h1>Kalau Ketua MUI, Ketua NU, Ketua Muhammadiyyah disebut pembela aliran sesat Syi’ah, lalu yang benar siapa? Ulama Salafi Wahabi?</h1>
<p style="text-align: justify;">Menurut Habib Rizieq, Syi’ah itu terbagi 3: Ghulat yg menTuhankan Ali (Sesat), Rafidhoh yg mencaci Khalifah/para Sahabat (Sesat), dan Mu’tazilah (tidak sesat).<br />
Syi’ah golongan inilah yang disebut oleh Prof. DR. Muhammad Sa’id Al-Buthi, Prof. DR. Yusuf Qardhawi, Prof. DR. Wahbah Az-Zuhaili, Mufti Mesir Syeikh Ali Jum’ah dan lainnya, sebagai salah satu Madzhab Islam yang diakui dan mesti dihormati. Syi’ah golongan ketiga ini mesti dihadapi dengan Da’wah dan Dialog bukan dimusuhi.<br />
Mereka semua ulama. Kalau mereka semua dianggap sesat, lalu yang benar siapa?</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan sebut ulama Pembela Paham Sesat Syi&#8217;ah karena mereka membela Syi&#8217;ah dengan anggapan minimal ada sebagian Syi&#8217;ah yang tidak sesat. Jika ada yang menyebut ulama sebagai pembela paham sesat, maka orang itu adalah Khawarij yang menghina ulama. Jangankan ulama, Nabi pun dihina oleh ulama. Bahkan Khalifah Ali mereka bunuh.</p>
<h1>Inilah Tokoh Para Pembela Paham Sesat Syiah</h1>
<p>Jakarta (Voa-Islam) – Rupanya, ada banyak tokoh yang mengklaim dirinya sebagai tokoh Islam yang membela paham sesat Syiah. Mulai dari Ketua MUI Umar Syihab, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, dan sebagainya. Berikut Voa-Islam tampilkan pendapat mereka mengenai ajaran Syiah:</p>
<p><strong>Umar Syihab (Ketua MUI)</strong></p>
<p>Menurut Umar Syihab, ia tak sependapat dengan MUI Jawa Timur yang menyebut aliran Syiah sesat. Umar menegaskan bahwa MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Syiah sebagai aliran sesat.</p>
<p>Mengenai insiden pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura beberapa waktu lalu, Umar berpendapat insiden hanyalah ditumpangi pihak-pihak yang ingin mengadu domba umat Islam dengan kedok ajaran Syiah yang dituding sesat.<br />
Kata Umar, MUI tidak pernah menyatakan, bahwa Syiah itu sesat. Syiah dianggap salah satu mazhab yang benar, sama halnya dengan ahli sunnah wal jama’ah. Kendati pun ada perbedaan pandangan, kata dia, Islam tidak pernah menghalalkan kekerasan, apalagi perusakan tempat ibadah dan majelis taklim seperti terjadi di Sampang.</p>
<p>Ajaran Syiah, kata Umar, sudah diakui di dunia islam sebagai mazhab yang benar sampai saat ini. “Karena itu jangan kita membuat peryataan yang bisa mengeluapkan gejolak di tengah-tengah masyarakat kita dan bisa menyebabkan korban.”</p>
<p><strong>Said Aqil Siraj (Ketua NU)</strong></p>
<p>Menurut Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, ada desain besar di balik aksi pembakaran pesantren penganut Syiah di Sampang, Madura. Tak mungkin peristiwa tersebut terjadi tanpa ada yang membuatnya. Padahal kerukunan hidup beragama di sana sebelumnya baik-baik saja.</p>
<p>Said meminta pemerintah dan aparat keamanan bekerja lebih keras, mencegah aksi serupa terulang di kemudian hari. “Ini pasti ada big design-nya. Ada pihak-pihak yang ingin merusak suasana damai di Indonesia,” kata Said.</p>
<p>Menurut Said Aqil, Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan. Padahal tidak, mereka dari dulu sampai sekarang hidup damai berdampingan. Ketua Umum PBNU itu meminta semua pihak bisa menahan diri dengan tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis. “Pihak ketiga itu selalu melancarkan provokasi supaya konflik terus terjadi. Dan bukan tidak mungkin kasus serupa akan terjadi di kemudian hari,” katanya.</p>
<p>Prof Dr Said Agil Siraj mengungkapkan, di sejumlah negara Islam maupun Timur Tengah yang hidup faham Suni dan Syiah, dapat hidup rukun dan berdampingan. ”Bahkan Mufti Syria Badruddin Hassun yang berasal dari Suni, fatwa-fatwanya sangat didengar oleh kelompok Syiah,” jelas Kiai Siraj seraya menambahkan kondisi serupa terjadi di Saudi Arabia, Pakistan, maupun Libanon.</p>
<p>Bahkan di Libanon Selatan, lanjut Said, Hizbullah dari kelompok Syiah didukung juga oleh kelompok Suni. Dikatakan Said, sepanjang sejarah, perbedaan yang terjadi antara Suni dan Syiah sebenarnya, terkait soal kekuasaan atau lazim disebut imamah. Karena itu, kelompok Syiah memasukkan masalah imamah ke dalam rukun agama dan sejak dini anak-anak mereka diajarkan pengetahuan tentang imamah. “Dalam perkembangan Islam, kedua kelompok Suni dan Syiah sama-sama memberikan andil dan peran yang sangat besar dalam peradaban Islam,” tegas kyai Siraj.</p>
<p>Said menyebut sejumlah tokoh Syiah yang memberikan andil besar bagi kemajuan Islam. Sebut saja misalnya Ibnu Sina, seorang filsuf yang juga dikenal sebagai seorang dokter, Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai penemu ilmu hitung atau aljabbar, dan seorang sufi Abu Yazid al Busthami. Mereka yang beraliran Syiah ini telah menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan Islam. “Jadi, kedua kelompok ini adalah aset yang sangat berharga bagi umat Islam.”</p>
<p><strong>Syafii Maarif (Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah)</strong></p>
<p>Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengutuk keras aksi pembakaran terhadap pondok pesantren Syiah di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Terlebih jika aksi pembakaran tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan keagamaan.</p>
<p>Menurutnya, kebenaran bukanlah milik individu apalagi kelompok. Syafii mengatakan, Syiah telah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. Dia pun menyatakan bahwa setiap orang, sekalipun atheis berhak hidup. Terpenting, katanya, bisa hidup rukun dan toleran.</p>
<p><strong>Din Syamsudin (Ketua Muhammadiyah)</strong></p>
<p>Pada Konferensi Persatuan Islam Sedunia yang berlangsung 4-6 Mei 2008 di Teheran, Iran, Din Syamsuddin pernah mengatakan, bahwa Sunni dan Syi’ah ada perbedaan, tapi hanya pada wilayah cabang (furu’yat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Menurut Din, Sunni dan Syi’ah berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, yakni Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini juga mengatakan, sewajarnya jika dua kekuatan besar Islam ini (Sunni dan Syi’ah) bersatu melawan dua musuh utama umat saat ini yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Detikcom 5 Mei 2008)</p>
<p>Dikatakan Din, seandainya tidak dicapai titik temu, maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi. Seluruh elemen umat Islam dalam kemajemukannya perlu menemukan “kalimat sama” (kalimatun sawa) dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi.</p>
<p>Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan bahwa persatuan umat Islam khususnya antara kaum Sunni dan kaum Syiah, adalah mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan Islam. Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut. (Desastian/dbs)<br />
<a href="http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/01/04/17291/inilah-tokoh-para-pembela-paham-sesat-syiah/">http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/01/04/17291/inilah-tokoh-para-pembela-paham-sesat-syiah/</a></p>
<p>Syi&#8217;ah muncul saat Mu&#8217;awiyah berontak terhadap Khalifah &#8216;Ali sehingga akhirnya Islam pecah jadi 3 bagian: Sunni (Pendukung Mu&#8217;awiyah), Syi&#8217;ah Ali (Pendukung Ali), dan Khawarij (Orang-orang yang keluar dari Islam). Saat itu aqidah dan ibadah ummat Islam baik Sunni, Syi&#8217;ah, mau pun Khawarij adalah sama. Namun Khawarij dianggap sesat atau keluar dari Islam karena mengkafirkan sesama Muslim dan menghalalkan darah ummat Islam.</p>
<p>Khawarij ingin membunuh Mu&#8217;awiyah dan Ali karena menganggap mereka berdua sumber fitnah. Namun hanya Ali yang terbunuh. Mu&#8217;awiyah selamat dan jadi khalifah.</p>
<p>Meski awalnya sama, namun seiring perjalanan waktu mulai timbul perbedaan. Sunni mengambil hadits dari seluruh sahabat. Syi&#8217;ah hanya mengambil dari Ali dan dari keturunan Husein bin Ali. Syi&#8217;ah tidak mengakui Mu&#8217;awiyah sebagai Khalifah. Sebaliknya mereka mengakui Ali dan keturunan Nabi dari Siti Fatimah dan Ali sebagai Imam. Di antaranya adalah Hasan, Husein. Urutan Imamnya:</p>
<p>Urutan imam mereka yaitu:</p>
<ol>
<li><a title="Ali bin Abi Thalib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib">Ali bin Abi Thalib</a> (<a title="600" href="http://id.wikipedia.org/wiki/600">600</a>–<a title="661" href="http://id.wikipedia.org/wiki/661">661</a>), juga dikenal dengan <em>Amirul Mukminin</em></li>
<li><a title="Hasan bin Ali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hasan_bin_Ali">Hasan bin Ali</a> (<a title="625" href="http://id.wikipedia.org/wiki/625">625</a>–<a title="669" href="http://id.wikipedia.org/wiki/669">669</a>), juga dikenal dengan <em>Hasan al-Mujtaba</em></li>
<li><a title="Husain bin Ali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Husain_bin_Ali">Husain bin Ali</a> (<a title="626" href="http://id.wikipedia.org/wiki/626">626</a>–<a title="680" href="http://id.wikipedia.org/wiki/680">680</a>), juga dikenal dengan <em>Husain asy-Syahid</em></li>
<li><a title="Ali bin Husain" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Husain">Ali bin Husain</a> (<a title="658" href="http://id.wikipedia.org/wiki/658">658</a>–<a title="713" href="http://id.wikipedia.org/wiki/713">713</a>), juga dikenal dengan <em>Ali Zainal Abidin</em></li>
<li>Muhammad bin Ali (<a title="676" href="http://id.wikipedia.org/wiki/676">676</a>–<a title="743" href="http://id.wikipedia.org/wiki/743">743</a>), juga dikenal dengan <em><a title="Muhammad al-Baqir" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_al-Baqir">Muhammad al-Baqir</a></em></li>
<li>Jafar bin Muhammad (<a title="703" href="http://id.wikipedia.org/wiki/703">703</a>–<a title="765" href="http://id.wikipedia.org/wiki/765">765</a>), juga dikenal dengan <em><a title="Ja'far ash-Shadiq" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ja%27far_ash-Shadiq">Ja&#8217;far ash-Shadiq</a></em></li>
<li>Musa bin Ja&#8217;far (<a title="745" href="http://id.wikipedia.org/wiki/745">745</a>–<a title="799" href="http://id.wikipedia.org/wiki/799">799</a>), juga dikenal dengan <em><a title="Musa al-Kadzim" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musa_al-Kadzim">Musa al-Kadzim</a></em></li>
<li>Ali bin Musa (<a title="765" href="http://id.wikipedia.org/wiki/765">765</a>–<a title="818" href="http://id.wikipedia.org/wiki/818">818</a>), juga dikenal dengan <em><a title="Ali ar-Ridha" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_ar-Ridha">Ali ar-Ridha</a></em></li>
<li>Muhammad bin Ali (<a title="810" href="http://id.wikipedia.org/wiki/810">810</a>–<a title="835" href="http://id.wikipedia.org/wiki/835">835</a>), juga dikenal dengan <em><a title="Muhammad al-Jawad" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_al-Jawad">Muhammad al-Jawad</a></em> atau Muhammad at Taqi</li>
<li>Ali bin Muhammad (<a title="827" href="http://id.wikipedia.org/wiki/827">827</a>–<a title="868" href="http://id.wikipedia.org/wiki/868">868</a>), juga dikenal dengan <em><a title="Ali al-Hadi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_al-Hadi">Ali al-Hadi</a></em></li>
<li>Hasan bin Ali (<a title="846" href="http://id.wikipedia.org/wiki/846">846</a>–<a title="874" href="http://id.wikipedia.org/wiki/874">874</a>), juga dikenal dengan <em><a title="Hasan al-Asykari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hasan_al-Asykari">Hasan al-Asykari</a></em></li>
<li>Muhammad bin Hasan (<a title="868" href="http://id.wikipedia.org/wiki/868">868</a>—), juga dikenal dengan <em><a title="Muhammad al-Mahdi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_al-Mahdi">Muhammad al-Mahdi</a></em></li>
</ol>
<div><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Syi'ah">http://id.wikipedia.org/wiki/Syi&#8217;ah</a></div>
<div></div>
<div>Itu adalah Imam dari Syi&#8217;ah Imamiyah yang merupakan kelompok Syi&#8217;ah terbesar.</div>
<div>Sebagian kaum Sunni menuduh bahwa ajaran Syi&#8217;ah adalab buatan Yahudi Abdullah bin Saba&#8217; yang masuk Islam di zaman Khalifah Usman guna menimbulkan perpecahan. Oleh sebab itu ada kelompok Sunni yang menuding Syi&#8217;ah = Yahudi:</div>
<div><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Saba'">http://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Saba&#8217;</a></div>
<div></div>
<div>Namun kaum Syi&#8217;ah menolak. Allamah Murtadha Askari telah mengesan dan membuktikan bahawa cerita Abdullah ibn Saba&#8217; yang terdapat dalam versi sunni adalah bersumberkan dari Al-Tabari (w.310H/922M), Ibn Asakir (w571H/1175M), Ibn Abi Bakr (w741H/1340M) dan al-Dhahabi (w747H/1346M). Mereka ini sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba&#8217; dari satu sumber iaitu Sayf ibn Umar dalam bukunya al-Futuh al-kabir wa al-riddah dan al-Jamal wal-masir Aishah wa Ali [Murtadha Askari, Abdullah ibn Saba' wa digar afsanehaye tarikhi, Tehran, 1360 H].Sayf adalah seorang penulis yang tidak dipercayai oleh kebanyakan penulis-penulis rijal seperti Yahya ibn Mu&#8217;in (w233/847H), Abu Dawud (w275H/888M), al-Nasai (w303H/915M), Ibn Abi Hatim (w327H/938M), Ibn al-Sukn (w353H/964M), Ibn Hibban (w354H/965M), al-Daraqutni (w385H/995M), al-Hakim (w405H/1014M), al-Firuzabadi (w817H/1414M), Ibn Hajar (w852H/1448M), al-Suyuti (w911H/1505M, dan al-Safi al-Din (w923H/1517M).</div>
<div>Tapi memang jika kelompok Syi&#8217;ah Ali yang merupakan sahabat Nabi disebut taqlid terhadap ajaran Abdullah bin Saba&#8217; aneh juga. Sebab Sahabat Nabi adalah satu generasi terbaik. Mereka mungkin bisa terperdaya oleh taktik pecah-belah yang dilakukan Abdullah bin Saba&#8217;. Tapi jika mengikuti ajaran buatan Abdulllah bin Saba&#8217; yaitu Syi&#8217;ah yang sesat itu sangat aneh. Apa kemudian Hasan, Husen, <a title="Ali bin Husain" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Husain">Ali bin Husain</a> (<a title="658" href="http://id.wikipedia.org/wiki/658">658</a>–<a title="713" href="http://id.wikipedia.org/wiki/713">713</a>), Muhammad bin Ali (<a title="676" href="http://id.wikipedia.org/wiki/676">676</a>–<a title="743" href="http://id.wikipedia.org/wiki/743">743</a>), juga dikenal dengan <a title="Muhammad al-Baqir" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_al-Baqir">Muhammad al-Baqir</a>, Jafar bin Muhammad (<a title="703" href="http://id.wikipedia.org/wiki/703">703</a>–<a title="765" href="http://id.wikipedia.org/wiki/765">765</a>), juga dikenal dengan <a title="Ja'far ash-Shadiq" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ja%27far_ash-Shadiq">Ja&#8217;far ash-Shadiq</a> yang merupakan keturunan Nabi akhirnya tertipu mengikuti ajaran sesat Abdullah bin Saba&#8217;?</div>
<div>Apalagi Imam Ja&#8217;far Ash Shadiq pendiri Madzhab Ja&#8217;fariyah merupakan guru dari Imam Hanafi dan Imam Malik yang merupakan 2 tokoh dari 4 Madzhab Sunni. Tak mungkin beliau tertipu oleh Yahudi. Prof. Dr Quraish Shihab meragukan tuduhan para sahabat dan keturunan Nabi taqlid terhadap ajaran Syi&#8217;ah buatan Yahudi lewat bukunya &#8220;“Sunni-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah ?&#8221;</div>
<div>Ada pula yang menuding bahwa Imam Ja&#8217;far menolak dijadikan Imam oleh Syi&#8217;ah. Jika itu benar, harusnya Imam Ja&#8217;far menolak secara terbuka sehingga kaum Syi&#8217;ah membatalkannya menjadi Imam. Bahkan jika perlu menulis 1 buku kesesatan Syi&#8217;ah karena ini adalah perkara besar:</div>
<div><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ja%27far_ash-Shadiq">http://id.wikipedia.org/wiki/Ja%27far_ash-Shadiq</a></div>
<div></div>
<div>Ada Syi&#8217;ah yang sesat, agak sesat, dan ada juga yang lurus. Terhadap Syi&#8217;ah yang menTuhankan Ali, menganggap Al Qur&#8217;an palsu kita nyatakan itu adalah kafir. Yang menghina sahabat dan istri Nabi &#8216;Aisyah itu sesat dan kita ajak mereka agar menghentikan hal itu dengan baik-baik. Tapi terhadap yang lurus, hendaknya kita juga bertoleransi meski ummat Islam tetap harus lurus sesuai Al Qur&#8217;an dan Hadits.</div>
<div>Ada pun dalil-dalil untuk menyesatkan bahkan mengkafirkan Syi&#8217;ah selain ada yang benar, ada juga yang dusta. Jika Syi&#8217;ah itu memang kafir seluruhnya, tentu Jema&#8217;ah Iran yang 99% Syi&#8217;ah itu tidak boleh pergi Haji untuk menginjak Tanah Suci Mekkah karena Mekkah itu haram bagi orang-orang kafir. Toh nyatanya kaum Syi&#8217;ah dari dulu hingga tahun 2011 kemarin tetap berhaji dan umrah ke tanah Suci. Iran mendapat kuota Haji 50 ribu orang dari pemerintah Arab Saudi.</div>
<div>
<p>Pernyataan bahwa Al Kafi adalah Kitab Hadits yang setara dengan Sahih Bukhari dan Muslim juga menyesatkan karena menurut Ulama Syi&#8217;ah sendiri 58% dari hadits di Al Kafi adalah dhoif/palsu. Sementara Kulayni sendiri menyatakan hadits yang sesuai dengan Al Qur&#8217;an terimalah dan hadits yang berlawanan dengan Al Qur&#8217;an tolaklah. Silahkan lihat:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kulayni also states, in reference to hadiths:<br />
&#8220;whatever (hadith) agrees with the Book of God (the Qur&#8217;an), accept it. And whatever contradicts it, reject it&#8221;<br />
Mulla Baqir Majlisi stating in his commentary on al-Kafi, named Mir’at al-’Uqul, that 58% of narrations in al-Kafi are unreliable.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kitab_al-Kafi">http://en.wikipedia.org/wiki/Kitab_al-Kafi</a></p>
</blockquote>
<p>Jika Bukhari dari 200 ribu hadits akhirnya hanya memuat sekitar 7000 hadits. Kulayni mengumpulkan hadits apa adanya tanpa menyaringnya.</p>
<p>Menurut Ulama Syi&#8217;ah Zayn al-Din al-`Amili, yang dikenal sebagai al-Shahid al-Thani (911-966/1505-1559), yang meneliti sanad Al Kafi,  5.072 hadits dinyatakan Sahih, 144 hadits Hasan, 1118 muwaththoq, 302 hadits qowi, dan 9.485 dhaif/lemah. Karena itulah mungkin Kitab Syi&#8217;ah tersebut jarang didapat karena perlu ulama untuk menentukan kesahihannya.</p>
<p>Oleh karena itu saat kaum Salafi Wahabi menunjukkan kesesatan Syi&#8217;ah berdasar hadits Al Kafi, harusnya mereka menyebut derajad haditsnya itu Sahih apa bukan? Sebab jika dhoif dan bertentangan dengan Al Qur&#8217;an, menurut penyusun Hadits tersebut, Kulayni harus ditolak. Bukan diterima.</p>
<p>Jangankan hadits dho&#8217;if, hadits Sahih seperti Bukhari saja tidak bisa sembarang dipakai untuk memvonis Sunni sesat seperti hadits yang menyatakan bahwa pria dewasa boleh menetek pada wanita yang bukan muhrimnya sehingga jadi mahrom dan bebas keluar masuk rumah. Itu kan sudah mendekati zina namanya.</p>
<p>Tentang Syi&#8217;ah punya Al Qur&#8217;an tersendiri, yaitu Mushaf Fatimah yang panjangnya 3 x Al Qur&#8217;an dan tak ada satu ayat pun dari Al Qur&#8217;an kita harus tabayyun langsung ke orang yang dituduh yaitu Syi&#8217;ah sebagaimana surat Al Hujuraat ayat 6. Bukan ke penuduhnya.</p>
<p>Ternyata Al Qur&#8217;an kaum Syi&#8217;ah sama dengan kita. Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi mereka membaca Al Qur&#8217;an yang sama dengan kita. Ada pun Mushaf Fatimah meski kata Mushaf mengingatkan kita pada Mushaf Usmani yang Al Qur&#8217;an, namun ternyata bukan Al Qur&#8217;an. Tapi adalah &#8220;hiburan&#8221; Jibril kepada Siti Fatimah usai Nabi Muhammad meninggal dunia. Secara fisik saat ini sudah tidak ada sehingga tidak ada seorang Syi&#8217;ah pun yang memiliki dan membacanya. Konon menurut mereka nanti Imam Mahdi akan membawanya. Ini penjelasan Mushaf Fatimah menurut Syi&#8217;ah:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Munculnya Mushaf Fathimah</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Shadiq as bersabda: “Sepeninggal Rasulullah saw Sayyidah Fathimah hanya hidup selama tujuh puluh lima hari. Di masa-masa kesedihan beliau itu malaikat Jibril selalu turun menemuinya memberitakan keadaan ayahnya di sisi Allah dan memberitakan tentang kejadian yang akan datang mengenai anak-anaknya (kejadian yang akan menimpa kesahidan anak-anaknya di tangan manusia-manusia zalim), dan Imam Ali menulisnya dalam sebuah Mushaf sehingga disebut sebagai Mushaf Fathimah”.<br />
Poin-poin yang ada dalam Mushaf Fathimah as</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as mengenai poin-poin yang ada dalam Mushaf Fathimah.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam menjelaskan kandungannya:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Tentang kabar-kabar sekarang dan kabar yang akan datang sampai hari kiamat.<br />
2. Tentang kabar langit dan nama-nama malaikat langit.<br />
3. Jumlah dan nama orang-orang yang diciptakan Allah swt.<br />
4. Nama-nama utusan Allah dan nama-nama orang yang mendustakan Allah.<br />
5. Nama-nama seluruh orang mukmin dan orang kafir dari awal sampai akhir penciptaan.<br />
6. Nama-nama kota dari barat sampai timur dunia.<br />
7. Jumlah orang-orang mukmin dan kafir setiap kota.<br />
8. Ciri-ciri orang-orang pendusta.<br />
9. Ciri-ciri umat terdahulu dan sejarah kehidupan mereka.<br />
10. Jumlah orang-orang zalim yang berkuasa dan masa kekuasaannya.<br />
11. Nama-nama pemimpin dan sifat-sifat mereka, satu persatu yang berkuasa di bumi, dan keterangan pembesar-pembesar mereka, serta siapa saja yang akan muncul di masa yang akan datang.<br />
12. Ciri-ciri penghuni surga dan jumlah orang yang akan masuk surga.<br />
13. Ciri-ciri penghuni neraka dan nama-nama mereka.<br />
14. Pengetahuan al-Quran, Taurat, Injil, Zabur sebagaimana yang diturunkan dan jumlah pohon-pohon di seluruh daerah.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://syiahali.wordpress.com/2010/07/02/mushaf-fatimah/">http://syiahali.wordpress.com/2010/07/02/mushaf-fatimah/</a></p>
<p style="text-align: justify;">There are several versions of this tradition, but common to all are that the angel Gabriel appeared to her and consoled her by telling her things (including future events regarding her offspring)<sup id="cite_ref-0"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Book_of_Fatimah#cite_note-0">[1]</a></sup> that she wrote in a book. During these revelations, Ali acted as the scribe for Fatima.<sup id="cite_ref-1"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Book_of_Fatimah#cite_note-1">[2]</a></sup> According to one tradition <sup id="cite_ref-al-Islam_9_2-0"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Book_of_Fatimah#cite_note-al-Islam_9-2">[3]</a></sup> they were prophecies. The book, if it was ever physical, did not survive, and was seen to be something that the <a title="Mahdi" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mahdi">Mahdi</a> would reveal in the <a title="End times" href="http://en.wikipedia.org/wiki/End_times">last days</a>.<sup id="cite_ref-al-Islam_8_3-0"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Book_of_Fatimah#cite_note-al-Islam_8-3">[4]</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Book_of_Fatimah">http://en.wikipedia.org/wiki/Book_of_Fatimah</a></p>
</blockquote>
<p>Menurut kita tetap saja aneh. Namun hendaknya kita mengajak mereka ke jalan yang lurus dengan cara yang bijak. Bukan justru menjauhkan mereka dari Islam.</p>
<p>Pernyataan kaum Salafi Wahabi bahwa Yahudi dan Nasrani lebih baik daripada Syi&#8217;ah hanya karena Syi&#8217;ah menghina sahabat bukan hanya bertentangan dengan akal, namun juga Al Qur&#8217;an. Dalam surat Al Fatihah dan ayat-ayat lainnya Allah mengutuk kaum Yahudi dan Nasrani. Bukan Syi&#8217;ah:</p>
<p><a href="http://media-islam.or.id/2011/10/11/ummat-islam-akan-mengikuti-kaum-yahudi-dan-nasrani-hingga-masuk-lubang-biawak/">http://media-islam.or.id/2011/10/11/ummat-islam-akan-mengikuti-kaum-yahudi-dan-nasrani-hingga-masuk-lubang-biawak/</a></p>
<p>Menghina sahabat memang dosa besar. Tapi menghina Allah, Al Qur&#8217;an, dan Nabi Muhammad jauh lebih besar lagi. Bagaimana mungkin kita bisa menempatkan sahabat yang bukan termasuk Rukun Iman di atas Allah, Al Qur&#8217;an, dan Nabi Muhammad (yang termasuk Rukun Iman) sehingga orang yang menghina Allah, Al Qur&#8217;an, dan Nabi Muhammad seperti kaum Yahudi dan Nasrani lebih baik daripada Syi&#8217;ah?</p>
<p><a href="http://kabarislam.wordpress.com/2011/12/31/ketika-as-dan-israel-menyerang-iran-anda-memihak-siapa/">http://kabarislam.wordpress.com/2011/12/31/ketika-as-dan-israel-menyerang-iran-anda-memihak-siapa/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<h1>Membongkar Kesesatan Syiah</h1>
<p>Penulis : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc.</p>
<div>
<p>Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.</p>
<p>Apa Itu Syi’ah?<br />
Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji)</p>
<p>Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm)</p>
<p>Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal, hal. 147, karya Asy-Syihristani)</p>
<p>Dan tampaknya yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya.<br />
Rafidhah , diambil dari yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna , meninggalkan (Al-Qamus Al-Muhith, hal. 829).</p>
<p>Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, berlepas diri dari keduanya, dan mencela lagi menghina para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 1/85, karya Abdullah Al-Jumaili)</p>
<p>Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata:<br />
“Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar’.” (Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hal. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)</p>
<p>Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)</p>
<p>Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari berkata:<br />
“Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakr dan ‘Umar, dan memandang bolehnya memberontak1 terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka:</p>
<p>“Kalian tinggalkan aku?” Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36).</p>
<p>Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah.</p>
<p>Rafidhah ini terpecah menjadi beberapa cabang, namun yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan kali ini adalah Al-Itsna ‘Asyariyyah.</p>
<p>Siapakah Pencetusnya?<br />
Pencetus pertama bagi faham Syi’ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.2</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:<br />
“Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrim di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa, pen).” (Majmu’ Fatawa, 4/435)</p>
<p>Sesatkah Syi’ah Rafidhah ?<br />
Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.</p>
<p>a. Tentang Al Qur’an<br />
Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata : “Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (ada) 17.000 ayat.”</p>
<p>Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata: ‘Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur’an kalian…’.”<br />
(Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir)</p>
<p>Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.</p>
<p>b. Tentang shahabat Rasulullah<br />
Diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta’dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)</p>
<p>Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan Ilahi Dzahir)</p>
<p>Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 46)</p>
<p>Adapun shahabat Abu Bakr dan ‘Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan do’a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid laknat untuk keduanya:</p>
<p>Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah)<br />
(Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib)</p>
<p>Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18)</p>
<p>Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, mereka yakini sebagai pelacur -na’udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin ‘Abbas terhadap ‘Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)</p>
<p>Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, Al-Imam Malik bin Anas berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) adalah seorang yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang shalih.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hal. 580)</p>
<p>c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)<br />
Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata: “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata: “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1/174)</p>
<p>Imamah ini (menurut mereka -red) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu dan keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, ‘Umar dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17)</p>
<p>Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.</p>
<p>d. Tentang Taqiyyah<br />
Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 80)</p>
<p>Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami: “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196)</p>
<p>Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka beliau berkata:<br />
“Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.”</p>
<p>Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi’i berkata:<br />
“Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)</p>
<p>e. Tentang Raj’ah<br />
Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah, kemudian menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘Alar Riwayatit Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)</p>
<p>f. Tentang Al-Bada’<br />
Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa Al-Bada’ ini terjadi pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdullah (ia berkata): “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi Al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252). Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.</p>
<p>Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 192)</p>
<p>Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah<br />
Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja.</p>
<p>1. Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata:<br />
“Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad)</p>
<p>2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata:<br />
“Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)</p>
<p>3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i, telah disebut di atas.</p>
<p>4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:<br />
“Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal)</p>
<p>5. Al-Imam Al-Bukhari berkata:<br />
“Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)</p>
<p>6. Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata:<br />
“Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)</p>
<p>Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran…Amin.</p>
<p>Sumber : http://www.asysyariah.com</p>
<p><a href="http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/14/membongkar-kesesatan-syiah/">http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2012/01/14/membongkar-kesesatan-syiah/</a></p>
</div>
</div>
<div></div>
<div></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sesuai berita di atas, Syi&#8217;ah ada yang sesat, ada yang agak sesat, dan ada pula yang lurus.</p>
<div class="shr-publisher-2530"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F11%2Frekomendasi-mui-tentang-syiah%2F' data-shr_title='Rekomendasi+MUI+Tentang+Syi%27ah'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F11%2Frekomendasi-mui-tentang-syiah%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F11%2Frekomendasi-mui-tentang-syiah%2F' data-shr_title='Rekomendasi+MUI+Tentang+Syi%27ah'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='none' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2012%2F01%2F11%2Frekomendasi-mui-tentang-syiah%2F' data-shr_title='Rekomendasi+MUI+Tentang+Syi%27ah'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-islam.or.id/2012/01/11/rekomendasi-mui-tentang-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Who Is The Real God?</title>
		<link>http://media-islam.or.id/2011/12/27/who-is-the-real-god/</link>
		<comments>http://media-islam.or.id/2011/12/27/who-is-the-real-god/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 05:02:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizami</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Who is the Real God]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-islam.or.id/?p=2513</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">There is only one God. Yet, many people worship different God. Some worship the Sun as their God. Others worship the Father, Jesus, the Son, Holy Ghost, Krishna, Yahwe, Eli, Elohim, etc. There is also some people that worship Allah alone.</p> <p style="text-align: justify;">So, who is the true God according to Islam? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p style="text-align: justify;"><a href="http://islammyreligion.files.wordpress.com/2011/12/godtheeverliving.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-555" title="GODTHEEVERLIVING" src="http://islammyreligion.files.wordpress.com/2011/12/godtheeverliving.jpg" alt=""  /></a>There is only one God. Yet, many people worship different God. Some worship the Sun as their God. Others worship the Father, Jesus, the Son, Holy Ghost, Krishna, Yahwe, Eli, Elohim, etc. There is also some people that worship Allah alone.</p>
<p style="text-align: justify;">So, who is the true God according to Islam? What is His attributes? We know little about God. Yet, in the Quran, God explains His characteristics as follow:</p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>God, the All Wise Creator</strong></h1>
<p style="text-align: justify;">According to Islam, God is the Creator of All:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“The Originator of the heavens and the earth! When He decreeth a thing, He saith unto it only: Be! and it is.” [Quran 2:117]</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span id="more-2513"></span>Lo! the likeness of Jesus with Allah is as the likeness of Adam. He created him of dust, then He said unto him: Be! and he is.” [Quran 3:59]</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Say : Is there of your partners (whom ye ascribe unto Allah) one that produceth Creation and then reproduceth it? Say: Allah produceth creation, then reproduceth it. How then, are ye misled!” [Quran 10:34]</strong></p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>God the Owner of Heaven, Earth, and Their Contents</strong></h1>
<p style="text-align: justify;">God owns everything in Earth, Heaven, and in between:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>They indeed have disbelieved who say: Lo! Allah is the Messiah, son of Mary. Say : Who then can do aught against Allah, if He had willed to destroy the Messiah son of Mary, and his mother and everyone on earth? Allah’s is the Sovereignty of the heavens and the earth and all that is between them. He createth what He will. And Allah is Able to do all things” [Quran 5:17]</strong></p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>God is The Ever Living</strong></h1>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;And rely upon the Ever-Living who does not die, and exalt [ Allah ] with His praise. And sufficient is He to be, with the sins of His servants, Acquainted&#8221; [Quran 25:58]</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;Allah! There is no God save Him, the Alive, the Eternal. Neither slumber nor sleep overtaketh Him. Unto Him belongeth whatsoever is in the heavens and whatsoever is in the earth. Who is he that intercedeth with Him save by His leave? He knoweth that which is in front of them and that which is behind them, while they encompass nothing of His knowledge save what He will. His throne includeth the heavens and the earth, and He is never weary of preserving them. He is the Sublime, the Tremendous.&#8221; [Al Baqarah 2:255] </strong></p>
<p style="text-align: justify;">So Jesus that died on the cross is not a God. Only a human.</p>
<h1 style="text-align: justify;"></h1>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>God is the First and the Last</strong></h1>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://islammyreligion.files.wordpress.com/2011/12/virginmary-suckling-jesus1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-564" title="virginmary-suckling-jesus" src="http://islammyreligion.files.wordpress.com/2011/12/virginmary-suckling-jesus1.jpg" alt=""  /></a>God already exists before anything exist. God also will keep exist when everything is dead or destroyed.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>”He is the First and the Last, and the Outward and the Inward; and He is Knower of all things.” [Quran 57:3]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Therefore it would be inappropriate if God was born when other creatures already exist and died when “His” creatures still exist. If there is a “God” like that, then he is not a God at all. But only a creature of the true God!</p>
<p style="text-align: justify;">Jesus that was born in 0 AD is not a God based on Islamic religion.</p>
<h1 style="text-align: justify;"></h1>
<h1><strong>God Needs NOTHING!</strong></h1>
<p>The real God needs nothing.</p>
<p>He doesn&#8217;t need a mother to feed him or a father to guide him. That is human.</p>
<p>In fact, all the world need Him.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;..Allah is free of all needs from all creation.&#8221; [Quran Al 'Ankabuut 29:6]</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;Say: &#8220;Praise be to Allah, who begets no son, and has no partner in (His) dominion: Nor (needs) He any to protect Him from humiliation: yea, magnify Him for His greatness and glory!&#8221; [Al Israa' 17:111]</strong></p>
<h1>There is only one God: Allah</h1>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>God is one, namely: Allah</strong></h1>
<p style="text-align: justify;">There is only one God: Allah</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“They surely disbelieve who say: Lo! Allah is the third of three; when there is no God save the One God. If they desist not from so saying a painful doom will fall on those of them who disbelieve.” [Quran 5:73]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">In the Ten Commandments God said:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;Thou shalt have no other gods before me.&#8221; [Exodus 20:3]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">So the 3 Gods: The Father, The Son, and a Ghost are not a God!</p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>Allah has no Partner</strong></h1>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Say (O Muhammad): Who is Lord of the heaven and the earth?</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Say: Allah! Say: Take ye then (others) beside Him for protectors, which, even for themselves, have neither benefit nor hurt?</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Say: Is the blind man equal to the seer, or is darkness equal to light? Or assign they unto Allah partners Who created the like of His creation so that the creation (which they made and His creation) seemed alike to them? Say: Allah is the Creator of all things, and He is the One, the Almighty.” [Quran 13:16]</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“And say: Praise be to Allah, Who hath not taken unto Himself a son, and Who hath no partner in the Sovereignty, nor hath He any protecting friend through dependence. And magnify Him with all magnificence.” [Quran 17:111]</strong></p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>Allah has no Child nor Partner</strong></h1>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Allah hath not chosen any son, nor is there any God along with Him; else would each God have assuredly championed that which he created, and some of them would assuredly have overcome others. Glorified be Allah above all that they allege.” [Quran 23:91]</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“And nothing compares to Him.” [Quran 112:4]</strong></p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>Allah Knows All</strong></h1>
<p style="text-align: justify;">Allah knows all even the invisible, a falling leaf, or a grain in the darkness.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>And with Him are the keys of the invisible. None but He knoweth them. And He knoweth what is in the land and the sea. Not a leaf falleth but He knoweth it, not a grain amid the darkness of the earth, naught of wet or dry but (it is noted) in a clear record.” [Quran 6:59]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jesus is not a God since he doesn&#8217;t know the Fig tree has no fruit because it&#8217;s not its season yet:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://islammyreligion.files.wordpress.com/2011/12/jesusandthefig_tree.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-552" title="Jesusandthefig_tree" src="http://islammyreligion.files.wordpress.com/2011/12/jesusandthefig_tree.jpg" alt=""  /></a></p>
<h1>Matthew 21:18-19:</h1>
<p style="text-align: justify;">18 Early in the morning, as he was on his way back to the city, he was hungry. 19 Seeing a fig tree by the road, he went up to it but found nothing on it except leaves. Then he said to it, &#8221;May you never bear fruit again!&#8221; Immediately the tree withered.</p>
<h1><strong>Allah Sees Anything, Anywhere, Anytime</strong></h1>
<p>Allah could see anything. Allah could see the smallest atom, the farthest thing, and the darkest thing. Allah could see a black ant that walk on the black stone in the dark of the night.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;Lo! Allah knoweth the Unseen of the heavens and the earth. And Allah is Seer of what ye do. &#8221; [Al Hujuraat 49:18]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">So, Jesus that could not see if the Fig tree has no fruit from the distance is not a God according to Islamic teaching.</p>
<h1><strong>God Speaks!</strong></h1>
<p>God speaks. If he is mute, cannot speak, then he is not a God. The Idol Statues are mute. So they are not a God!</p>
<p><strong>&#8220;&#8230;Allah spake directly unto Moses&#8221; [An Nisaa' 4:164]</strong></p>
<h1><a href="http://islammyreligion.files.wordpress.com/2011/12/idolstatue.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-584" title="idolstatue" src="http://islammyreligion.files.wordpress.com/2011/12/idolstatue.jpg" alt=""  /></a></h1>
<p style="text-align: justify;">All the idol statues above are not a God because they cannot speak. They cannot even lift a finger if a fly landed on their skin.</p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>Allah the Most Powerful</strong></h1>
<p style="text-align: justify;">Allah is the Almighty. Sometimes we are amaze of the greatness of some people. Yet their power is not everlasting. The great people such as Genghis Khan, Hitler, and Roosevelt were dead in the hand of Allah, the Creator, the Most Powerful, and the executioner.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>If He will, He can remove you, O people, and produce others in your stead. Allah is Able to do that.” [Quran 4:133]</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Yet they choose beside Him other gods who create naught but are themselves created, and possess not hurt nor profit for themselves, and possess not the dead nor life, nor power to raise the dead.” [Quran 25:3]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">In a hadeeth told that when all creatures such as human, genie, and angels are put to death, Allah says “I am King of the Kings. Where are arrogant people who used to claim themselves a God? Where are arrogant people who used to claim themselves a King?” At that time, only Allah lives and the Most Powerful.</p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>Allah the Great Controller</strong></h1>
<p style="text-align: justify;">Sometimes we see the bridges that were designed by experts and built by hundreds of workers with strong pillars fall down instantly. Or the air traffic that controlled by radar, air controller, pilot, and co-pilot, yet the accidents happen every year.</p>
<p style="text-align: justify;">But we never see the sky which is pillar-less fall down into the Earth. The Sun never bump into the Moon or the Earth though they revolve for billions of years.</p>
<p style="text-align: justify;">That is the proof that the order happens because there is a Great Controller: Allah!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Allah it is who raised up the heavens without visible supports, then mounted the Throne, and compelled the sun and the moon to be of service, each runneth unto an appointed term; He ordereth the course; He detaileth the revelations, that haply ye may be certain of the meeting with your Lord.” [Quran 13:2]</strong></p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>Allah the Giver Gives All to Mankind</strong></h1>
<p style="text-align: justify;">Who gives you your body, life, parent, friends, air to breath, water to drink, the Earth, etc?</p>
<p style="text-align: justify;">People who sick will know how expensive is the heart, kidney, eyes, etc. Millions of dollar could be spend to buy those things and the operation.</p>
<p style="text-align: justify;">We have to buy drinking water. If we want to do the diving, we have to buy air to breath expensively. Yet, Allah gives those things and many others to us for free!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Who hath appointed the earth a resting-place for you, and the sky a canopy; and causeth water to pour down from the sky, thereby producing fruits as food for you. And do not set up rivals to Allah when ye know (better).” [Quran 2:22]</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Lo! in the creation of the heavens and the earth, and the difference of night and day, and the ships which run upon the sea with that which is of use to men, and the water which Allah sendeth down from the sky, thereby reviving the earth after its death, and dispersing all kinds of beasts</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>therein, and (in) the ordinance of the winds, and the clouds obedient between heaven and earth: are signs (of Allah’s sovereignty) for people who have sense.” [Quran 2:164</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>If you try to count what Allah gives you, you will not be able to do it.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>”If ye would count the favor of Allah ye cannot reckon it. Lo! Allah is indeed Forgiving, Merciful.” [Quran 16:18]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">So, thank God, and worship Him.</p>
<p style="text-align: justify;">Those are some characteristics of God in Islam. We hope we could understand who is the real God better.</p>
<p style="text-align: justify;">Don&#8217;t worship the wrong Gods. Worship the real God: Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Please spread this information to others because daawa is an obligation for all of us.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://islammyreligion.wordpress.com/2011/12/25/who-is-the-real-god/">http://islammyreligion.wordpress.com/2011/12/25/who-is-the-real-god/</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://islammyreligion.wordpress.com/2008/09/15/">http://islammyreligion.wordpress.com</a></p>
<div class="shr-publisher-2513"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2011%2F12%2F27%2Fwho-is-the-real-god%2F' data-shr_title='Who+Is+The+Real+God%3F'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2011%2F12%2F27%2Fwho-is-the-real-god%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2011%2F12%2F27%2Fwho-is-the-real-god%2F' data-shr_title='Who+Is+The+Real+God%3F'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='none' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2011%2F12%2F27%2Fwho-is-the-real-god%2F' data-shr_title='Who+Is+The+Real+God%3F'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-islam.or.id/2011/12/27/who-is-the-real-god/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Sifat 20: Penjelasan Sifat-sifat Tuhan yang Sejati</title>
		<link>http://media-islam.or.id/2011/12/22/video-sifat-20-penjelasan-sifat-sifat-tuhan-yang-sejati/</link>
		<comments>http://media-islam.or.id/2011/12/22/video-sifat-20-penjelasan-sifat-sifat-tuhan-yang-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 01:12:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iman Kepada Allah]]></category>
		<category><![CDATA[MITV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-islam.or.id/?p=2505</guid>
		<description><![CDATA[ <p style="text-align: justify;">Ini adalah Video Sifat 20 dari Kitab yang disusun oleh Imam Abu Hasan Al Asy&#8217;ari. Berisi penjelasan sifat-sifat yang hanya ada pada Tuhan yang sejati. Jika ada &#8220;Tuhan&#8221; atau sesembahan yang tidak memiliki sifat itu, maka dia bukan Tuhan yang asli.</p> <p style="text-align: justify;">Misalnya Sifat-sifat Tuhan itu: Maha Esa/Satu, Maha Hidup, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://media-islam.or.id/2011/12/22/video-sifat-20-penjelasan-sifat-sifat-tuhan-yang-sejati/"><img src="http://img.youtube.com/vi/G-URhmv0s0U/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah Video Sifat 20 dari Kitab yang disusun oleh Imam Abu Hasan Al Asy&#8217;ari. Berisi penjelasan sifat-sifat yang hanya ada pada Tuhan yang sejati. Jika ada &#8220;Tuhan&#8221; atau sesembahan yang tidak memiliki sifat itu, maka dia bukan Tuhan yang asli.</p>
<p style="text-align: justify;">Misalnya Sifat-sifat Tuhan itu: Maha Esa/Satu, Maha Hidup, Maha Kuasa, Tidak serupa dengan makhlukNya, Terdahulu, dsb. Maka jika ada Tuhan yang 3, bisa mati/wafat, lemah, mirip manusia, baru lahir setelah makhluk lain ada, maka dia bukan Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-2505"></span></p>
<p>Dari sifat-sifat yang kita pelajari ini, kita akan yakin hanya Allah tuhan yang sejati.</p>
<p style="text-align: justify;">Sederhana bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Mohon disebarkan ke yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Silahkan lihat juga video-video lainnya di:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://media-islam.or.id/category/mitv/">http://media-islam.or.id/category/mitv</a></p>
<p style="text-align: justify;">Silahkan baca juga tulisan lengkap tentang Sifat 20 di:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://media-islam.or.id/2009/11/08/sifat-20-allah-yang-penting-dan-wajib-kita-ketahui/">http://media-islam.or.id/2009/11/08/sifat-20-allah-yang-penting-dan-wajib-kita-ketahui</a></p>
<div class="shr-publisher-2505"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2011%2F12%2F22%2Fvideo-sifat-20-penjelasan-sifat-sifat-tuhan-yang-sejati%2F' data-shr_title='Video+Sifat+20%3A+Penjelasan+Sifat-sifat+Tuhan+yang+Sejati'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2011%2F12%2F22%2Fvideo-sifat-20-penjelasan-sifat-sifat-tuhan-yang-sejati%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2011%2F12%2F22%2Fvideo-sifat-20-penjelasan-sifat-sifat-tuhan-yang-sejati%2F' data-shr_title='Video+Sifat+20%3A+Penjelasan+Sifat-sifat+Tuhan+yang+Sejati'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='none' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2011%2F12%2F22%2Fvideo-sifat-20-penjelasan-sifat-sifat-tuhan-yang-sejati%2F' data-shr_title='Video+Sifat+20%3A+Penjelasan+Sifat-sifat+Tuhan+yang+Sejati'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-islam.or.id/2011/12/22/video-sifat-20-penjelasan-sifat-sifat-tuhan-yang-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bantahan Atas Fatwa Halal Mengucapkan Selamat Natal Yusuf Al Qaradhawi</title>
		<link>http://media-islam.or.id/2011/12/20/bantahan-atas-fatwa-halal-mengucapkan-selamat-natal-yusuf-al-qaradhawi/</link>
		<comments>http://media-islam.or.id/2011/12/20/bantahan-atas-fatwa-halal-mengucapkan-selamat-natal-yusuf-al-qaradhawi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 02:38:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dosa - Kemunkaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-islam.or.id/?p=2491</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"></p> <p style="text-align: justify;">Prof. Dr. Yusuf Al Qaradhawi memfatwakan bahwa mengucapkan Selamat Natal itu Halal. Ini jelas bertentangan dengan Firman Allah, Sunnah Nabi dan para Sahabat, dan juga para Imam Madzhab.</p> <p style="text-align: justify;">Mengingat beliau punya banyak pengikut, tentu hal ini perlu diluruskan agar pengikutnya tidak tersesat.</p> <p style="text-align: justify;"></p> <p style="text-align: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p style="text-align: justify;"><a href="http://agusnizami.files.wordpress.com/2011/12/selamatnatalharam.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2590" title="selamatnatalharam" src="http://agusnizami.files.wordpress.com/2011/12/selamatnatalharam.jpg" alt="" width="231" height="210" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Prof. Dr. Yusuf Al Qaradhawi memfatwakan bahwa mengucapkan Selamat Natal itu Halal. Ini jelas bertentangan dengan Firman Allah, Sunnah Nabi dan para Sahabat, dan juga para Imam Madzhab.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengingat beliau punya banyak pengikut, tentu hal ini perlu diluruskan agar pengikutnya tidak tersesat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-2491"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Di antara dalil yang dipakai Al Qaradhawi untuk menghalalkan Ucapan Selamat Natal adalah:<strong></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu&#8230;” [QS. Al-Mumtahanah: 8]</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong><strong>“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An Nisaa : 86)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Penggunaan Dalil di atas tidak tepat untuk menghalalkan Selamat Natal. Sebab Nabi dan Para Sahabat serta Imam Madzhab tak pernah menggunakan itu untuk mengucapkan Selamat Natal kepada orang-orang Nasrani.<strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu&#8230;” <strong>[QS. Al-Mumtahanah: 8]</strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah tersebut mengenai berbuat baik seperti memberi makan atau menyantuni Non Muslim atau bergaul dengan orang tua yang Non Muslim. Bukan untuk berbuat dosa seperti Syirik dengan mengucapkan Selamat Natal kepada ummat Kristen yang merayakan kelahiran Tuhan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab turunnya ayat Al Qur&#8217;an di atas adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya “Menjalin hubungan dengan orang tua yang musyrik”. Kemudian beliau membawakan riwayat berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Asma’ mengatakan,</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Ibuku mendatangiku dan ia sangat ingin aku menyambung hubungan dengannya4. Kemudian aku menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah aku tetap menjalin hubungan dengannya? Beliau pun menjawab, “Iya boleh”.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa setelah itu Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya), “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama.” [QS. Al Mumtahanah [60] : 8]” </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau &#8220;Tolong-Menolong&#8221; dalam perbuatan dosa seperti Syirik dengan turut merayakan atau memberi ucapan selamat atas kelahiran Tuhan Anak/Yesus itu justru dosa:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;&#8230;Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran..&#8221; [Al Maa-idah 2]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menolong orang Musyrik yang tengah berbuat dosa syirik dengan memberi ucapan selamat justru mendapat murka Allah dan siksa neraka yang kekal:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.&#8221; [Al Maa-idah 80]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Syirik itu adalah dosa terbesar dan tidak diampuni oleh Allah. Bagaimana mungkin kita terhadap orang yang sedang berbuat dosa Syirik justru memberikan ucapan &#8220;Selamat Natal&#8221;? Ini sama halnya ketika ada orang yang sedang berbuat dosa misalnya sedang mencuri atau berzina, kemudian kita justru memberi mereka ucapan Selamat. Wajarkah itu?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.&#8221; [An Nisaa' 116]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin ada yang merasa tak enak seandainya anaknya Muslim dan orang tuanya beragama Kristen yang merayakan Natal. Nanti tidak enak dong kalau tidak mengucapkan Selamat Natal.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya berbuat baik selama tidak maksiyat kepada Allah tidak mengapa misalnya setiap hari mencium tangan orang tua, ngobrol dengannya, dan merawatnya jika sakit. Itu lebih bermakna dan bermanfaat daripada mengucapkan &#8220;Selamat Natal&#8221; setahun sekali tapi tidak melakukan itu. Jika pun ditanya mengapa tidak mau mengucapkan &#8220;Selamat Natal&#8221;, itulah kesempatan kita menyelamatkan mereka agar tidak terjerembab ke api neraka dan bisa masuk surga bersama kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Katakan bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah. Allah tidak beranak dan diperanakkan. Dan menyekutukan Allah dengan yang lain itu dosa besar yang tidak terampuni. Coba Bapak marah tidak jika mama kawin lagi? Tentu marah bukan. Nah Allah lebih cemburu lagi. Allah tidak mau ada Tuhan lain yang disembah selain Dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin ada yang berkata, “Masak mengucapkan Selamat Natal saja haram?” Menurut kita mungkin kecil. Tapi di sisi Allah ucapan yang sesat itu besar dosanya. Coba lihat:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak.”</strong><br />
<strong>Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh” [Maryam 88-90]</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal muamalat, kita bisa berbuat baik. Tapi dalam hal aqidah kita tegas. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa al-Walid bin al-Mughirah, al-’Ashi bin Wa-il, al-Aswad bin Muthalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah saw dan berkata: “Hai Muhammad! Mari kita bersama menyembah apa yang kami sembah dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah pemimpin kami.” Maka Allah menurunkan ayat ini (S.109:1-6)<br />
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Mina.)</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah surat Al Kaafiruun ayat 1-6:</p>
<p style="text-align: justify;">Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,<br />
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.<br />
Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.<br />
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,<br />
dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.<br />
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An Nisaa : 86)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya firman Allah di atas menyangkut dengan ucapan salam: &#8220;Assalamu&#8217;alaikum&#8221;. Semoga Allah memberi keselamatan untukmu. Bukan ucapan Selamat Natal yang mengandung kemusyrikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu pun ucapan salam di atas berlaku jika pemberinya adalah sesama Muslim. Bukan non Muslim. Jika yang memberi salam seorang Muslim misalnya &#8220;Assalamu&#8217;alaikum&#8221;, kita sebaiknya menjawab dengan lebih baik seperti &#8220;Wa &#8216;alaikum salam wa rohmatullahi wa barokatuhu&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknya jika Non Muslim yang mengucapkan itu, kita cukup menjawab &#8220;Wa &#8216;alaika&#8221;. Sebab kita tidak bisa mendoakan Non Muslim dengan semoga Allah memberimu Keselamatan, Rahmat, dan Keberkahan sementara mereka tidak mau beriman kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi menjelaskan di hadits yang sahih:</p>
<p style="text-align: justify;">Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:<br />
Rasulullah saw. bersabda: Apabila Ahli Kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah: Wa`alaikum. (Shahih Muslim No.4024)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata:<br />
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya orang Yahudi itu bila mengucapkan salam kepada kalian mereka mengucapkan: &#8220;Assaamu `alaikum&#8221; (kematian atas kalian), maka jawablah dengan: &#8220;Wa`alaka&#8221; (semoga menipa kamu). (Shahih Muslim No.4026)</p>
<p style="text-align: justify;">Kita tak boleh taqlid mengikuti ulama. Harus dilandasi ilmu. Sebab tak semua ulama itu mengikuti sunnah Nabi. Ada juga ulama su’ yang justru mengajak pada kesesatan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” [At Taubah 31]</p>
<p style="text-align: justify;">[639]. Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.</p>
<p style="text-align: justify;">Celaka atas umatku dari ulama yang buruk. (HR. Al Hakim)<br />
Seorang ulama yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri (Berarti amal perbuatan harus sesuai dengan ajaran-ajarannya). (HR. Ad-Dailami)Seorang ulama yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri (Berarti amal perbuatan harus sesuai dengan ajaran-ajarannya). (HR. Ad-Dailami)</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi dan para sahabat serta tabi’in serta para Imam Madzhab seperti Imam Malik, Imam Syafi&#8217;e, dsb tak pernah mengucapkan selamat Natal. Hendaknya kita ikuti sunnah mereka. Saat ini banyak ulama yang &#8220;keblinger&#8221; dalam hal berfatwa. Jadi hendaknya kita mengikuti Nabi, sahabat, dan para ulama Salaf/terdahulu agar tidak tersesat:</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
<strong>“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).”</strong></p>
<p style="text-align: justify;">dalam lafazh lain disebutkan bahwa,</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Sebaik-baik zaman adalah zamanku (zaman para sahabat), kemudian yang setelahnya (zaman tabi’in), kemudian yang setelahnya (zaman tabi’ut tabi’in).”</strong><br />
(HR. Bukhari no. 6429 dan Muslim no. 2533 hadits ini adalah Mutawatir)</p>
<p style="text-align: justify;">Ada juga beberapa website yang memelintir seolah-olah MUI (Majelis Ulama Indonesia) menghalalkan Ucapan Selamat Natal. Padahal MUI mengharamkannya:</p>
<div><strong>Fatwa MUI:</strong></div>
<div id="yui_3_2_0_1_1324515242176370">
<div style="text-align: justify;">1.       Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan diatas.</div>
<div style="text-align: justify;">2.       Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.</div>
<div id="yui_3_2_0_1_1324515242176367" style="text-align: justify;">3.       Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Dengan melarang ummat Islam agar tidak terjerumus ke hal yang Syubhat (Tidak Jelas Halal/Haram seperti Ucapan Selamat Natal) jelas MUI saat itu mengharamkan segala hal yang Syubhat termasuk mengucapkan Selamat Natal.</div>
</div>
<p style="text-align: justify;">Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI H. Aminuddin Ya`qub menyatakan MUI sejak masa Buya Hamka telah mengeluarkan fatwa haram bagi umat Islam memberi ucapan selamat natal. “Fatwa haram itu masih berlaku. MUI hingga kini belum merubahnya,” tegasnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.hidayatullah.com/read/14709/21/12/2010/%5C">http://www.hidayatullah.com/read/14709/21/12/2010/%5C</a></p>
<p style="text-align: justify;">Silahkan baca juga:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://media-islam.or.id/2010/12/14/haram-hukumnya-mengucapkan-selamat-natal">http://media-islam.or.id/2010/12/14/haram-hukumnya-mengucapkan-selamat-natal</a></p>
<h1 style="text-align: justify;">Referensi:</h1>
<p><a href="http://www.hidayatullah.com/read/14709/21/12/2010/%5C">http://www.hidayatullah.com/read/14709/21/12/2010/%5C</a></p>
<h1>Sejak Buya HAMKA, MUI Haramkan Ucapan Selamat Natal</h1>
<p>Selasa, 21 Desember 2010</p>
<p style="text-align: justify;">Hidayatullah.com&#8211;Pernyataan yang membolehkan kaum Muslim mengucapkan selamat natal mendapat kritik pedas Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat. Menurut Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI H. Aminuddin Ya`qub, Pernyataan seperti itu, dianggap basi karena MUI sudah mengatakan larangannya telah lama.<br />
“Hal seperti itu bukan hal baru. Sudah lama,” kata H. Aminuddin Ya`qub kepada hidayatullah.com, Selasa (21/12).<br />
Sebagaimana diketahui, belum lama ini, pengurus ICMI Eropa, Prof. Dr. Sofjan Siregar, MA di sebuah media massa mengatakan bolehnya memberikan ucapan selamat natal bagi kaum Muslim.</p>
<p>MUI sendiri, lanjut Aminuddin, sejak masa Buya Hamka telah mengeluarkan fatwa haram bagi umat Islam memberi ucapan selamat natal. “Fatwa haram itu masih berlaku. MUI hingga kini belum merubahnya,” tegasnya.</p>
<p>Aminuddin menjelaskan, ucapan selamat natal (tahniah) adalah berkenaan dengan akidah (kenyakinan). Memberi ucapan selamat berarti setidaknya menyakini kebenaran agama tersebut. Padahal, ujar Aminuddin, baik dalam al-Qur’an maupun sunnah hal itu bisa menodai akidah seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://nahimunkar.com/191/fatwa-majelis-ulama-indonesia-tentang-perayaan-natal-bersama/">http://nahimunkar.com/191/fatwa-majelis-ulama-indonesia-tentang-perayaan-natal-bersama/</a></p>
<h4 align="center">FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA</h4>
<h4 align="center">TENTANG PERAYAAN NATAL BERSAMA</h4>
<h4 align="center"></h4>
<p align="center">بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ<br />
Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, setelah :</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Memperhatikan</span></strong><strong></strong></p>
<p>1.       Perayaan Natal bersama pada akhir-akhir ini disalah artikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.</p>
<p>2.       Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan duduk dalam kepanitiaan Natal.</p>
<p>3.       Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah.<br />
<strong>Menimbang :</strong></p>
<p>1.       Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama.</p>
<p>2.       Ummat Islam agar tidak mencampur adukkan aqiqah dan ibadahnya dengan aqiqah dan ibadah agama lain.</p>
<p>3.       Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan Taqwanya kepada Allah SWT.</p>
<p>4.       Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar Ummat Beragama di Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Meneliti kembali</span></strong> : Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:</p>
<p>A.      Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas:</p>
<p>1.       Al Qur‘an surat Al-Hujurat ayat 13:</p>
<p dir="rtl">يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ(13)</p>
<p>“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan Kamu sekattan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang bertaqwa (kepada Allah), sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”</p>
<p>2.    Al Qur‘an surat Luqman ayat 15:</p>
<p dir="rtl">وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ(15)</p>
<p>“Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikutinya, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Ku lah kembalimu, maka akan Ku-berikan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”</p>
<p>3.    Al Qur‘an surat Mumtahanah ayat 8:</p>
<p dir="rtl">لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ(8)</p>
<p>“Allah tidak melarang kamu (ummat Islam) untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (beragama lain) yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”</p>
<p>B.      Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampuradukkan aqiqah dan peribadatan agamanya dengan aqiqah dan peribadatan agama lain berdasarkan :</p>
<p>1.       Al Qur‘an surat Al-Kafirun ayat 1-6:</p>
<p dir="rtl">قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ(1)لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ(2)وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(3)وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ(4)وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(5)لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ(6)</p>
<p>“Katakanlah hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.”</p>
<p>2.       Al Qur‘an surat Al Baqarah ayat 42:</p>
<p dir="rtl">وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ(42)</p>
<p>“Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersatukan dengan aku sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikutinya dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Kita, kemudian kepada-Kulah kembalimu, maka akan Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”</p>
<p>C.      Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul yang lain, berdasarkan atas:</p>
<p>1.       Al Qur‘an surat Maryam ayat 30-32:</p>
<p dir="rtl">قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ ءَاتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا(30)وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ ‎وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا(31)وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا(32)</p>
<p>“Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup. (Dan Dia memerintahkan aku) berbakti kepada ibumu (Maryam) dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”</p>
<p>2.       Al Qur‘an surat Al Maidah ayat 75:</p>
<p dir="rtl">مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ(75)</p>
<p>“Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rosul yang sesungguhnya telah lahir sebelumnya beberapa Rosul dan ibunya seorang yang sangat benar. Kedua-duanya biasa memakan makanan(sebagai manusia). Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).”</p>
<p>3.    Al Qur‘an surat Al Baqarah ayat 285 :</p>
<p dir="rtl">ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ(285)</p>
<p>“Rasul (Muhammad telah beriman kepada Al Qur‘an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman) semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-Nya. (Mereka mengatakan) : Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari Rasul-rasulnya dan mereka mengatakan : Kami dengar dan kami taat. (Mereka berdoa) Ampunilah Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”</p>
<p>D.      Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak Isa Al Masih itu anaknya, bahwa orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan atas :</p>
<p>1.       Al Qur‘an surat Al Maidah ayat 72 :</p>
<p dir="rtl">لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ(72)</p>
<p>“Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata : Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam. Padahal Al Masih sendiri berkata : Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidak adalah bagi orang zhalim itu seorang penolong pun.”</p>
<p>2.       Al Qur‘an surat Al Maidah ayat 73 :</p>
<p dir="rtl">لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ(73)</p>
<p>“Sesungguhnya kafir orang-orang yang mengatakan : Bahwa Allah itu adalah salah satu dari yang tiga (Tuhan itu ada tiga), padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu pasti orang-orang kafir itu akan disentuh siksaan yang pedih.”</p>
<p>3.    Al Qur‘an surat At Taubah ayat 30 :</p>
<p dir="rtl">وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ(30)</p>
<p>“Orang-orang Yahudi berkata Uzair itu anak Allah, dan orang-orang Nasrani berkata Al Masih itu anak Allah. Demikianlah itulah ucapan dengan mulut mereka, mereka meniru ucapan/perkataan orang-orang kafir yang terdahulu, dilaknati Allah-lah mereka bagaimana mereka sampai berpaling.”</p>
<p>E.       Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan Isa, apakan dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab “Tidak” : Hal itu berdasarkan atas : Al Qur‘an surat Al Maidah ayat 116-118 : “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: Hai Isa putera Maryam adakah kamu mengatakan kepada manusia (kaummu): Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah, Isa menjawab : Maha Suci Engkau (Allah), tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentu Engkau telah mengetahuinya, Engkau mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya), yaitu : sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu dan aku menjadi saksi terhadapa mereka selama aku berada di antara mereka. Tetapi setelah Engkau wafatkan aku, Engkau sendirilah yang menjadi pengawas mereka. Engkaulah pengawas dan saksi atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan Jika Engkau mengampunkan mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”</p>
<p>F.       Islam mengajarkan Bahwa Allah SWT itu hanya satu, berdasarkan atas Al Qur‘an surat Al Ikhlas :</p>
<p dir="rtl">قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ(1)اللَّهُ الصَّمَدُ(2)لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ(3)وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ(4)</p>
<p>“Katakanlah : Dia Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun / sesuatu pun yang setara dengan Dia.”</p>
<p>G.      Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan, berdasarkan atas :</p>
<p>1.       Hadits Nabi dari Nu‘man bin Basyir :</p>
<p dir="rtl">{ إنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ ، وَالْحَرَامَ بَيِّنٌ ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ ، لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ ، فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ : كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيهِ ، أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى ، أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ ، }.<strong></strong></p>
<p>“Sesungguhnya apa apa yang halal itu telah jelas dan apa apa yang haram itu pun telah jelas, akan tetapi diantara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram) kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah agamanya dan kehormatannya, tetapi barang siapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, semacam orang yang mengembalakan binatang makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu hanya haram jangan didekati).”</p>
<p>2.       Kaidah Ushul Fiqih</p>
<h2 dir="rtl">دَرْءَُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ .</h2>
<p>“Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahatan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasidnya yang diperoleh, sedangkan masholihnya tidak dihasilkan).”</p>
<p align="center"><strong>MEMUTUSKAN</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Memfatwakan</span></strong></p>
<p>1.       Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan diatas.</p>
<p>2.       Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.</p>
<p>3.       Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H<br />
7 Maret 1981</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Komisi Fatwa</strong></p>
<p align="center"><strong>Majelis Ulama Indonesia</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketua                                                                                  Sekretaris</p>
<p><strong>     K.H.M SYUKRI GHOZALI                                          Drs. H. MAS‘UDI</strong></p>
<p>Sumber: Himpunan Fatwa Mejelis Ulama Indonesia 1417H/ 1997, halaman 187-193</p>
<p><a href="http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=71" target="_blank">http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=71</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.eramuslim.com/syariah/tsaqofah-islam/muhammad-abduh-tuasikal-mengucapkan-selamat-natal-dianggap-amalan-baik.htm">http://www.eramuslim.com/syariah/tsaqofah-islam/muhammad-abduh-tuasikal-mengucapkan-selamat-natal-dianggap-amalan-baik.htm</a></p>
<h1 style="text-align: justify;">Fatwa Ulama Tentang Hukum Mengucapkan Selamat Natal</h1>
<div style="text-align: justify;">Posted on <a title="7:25 am" href="http://erzal.wordpress.com/2011/12/02/fatwa-ulama-tentang-hukum-mengucapkan-selamat-natal/" rel="bookmark">December 2, 2011</a></div>
<div style="text-align: justify;">
<h2>Fatwa Ulama Tentang Hukum Mengucapkan Selamat Natal</h2>
</div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perbedaan Pendapat tentang Mengucapkan Selamat Natal</strong><br />
Diantara tema yang mengandung perdebatan setiap tahunnya adalah <em>ucapan selamat Hari Natal</em>. Para ulama kontemporer berbeda pendapat didalam penentuan hukum fiqihnya antara yang mendukung ucapan selamat dengan yang menentangnya. Kedua kelompok ini bersandar kepada sejumlah dalil.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun pengucapan <strong>selamat hari natal</strong> ini sebagiannya masuk didalam wilayah aqidah namun ia memiliki hukum fiqih yang bersandar kepada pemahaman yang mendalam, penelaahan yang rinci terhadap berbagai nash-nash syar’i.<br />
Ada dua pendapat didalam permasalahan ini :</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim</strong> dan para pengikutnya seperti Syeikh Ibn Baaz, Syeikh Ibnu Utsaimin—semoga Allah merahmati mereka—serta yang lainnya seperti Syeikh Ibrahim bin Muhammad al Huqoil berpendapat bahwa mengucapkan selamat Hari Natal hukumnya adalah haram karena perayaan ini adalah bagian dari syiar-syiar agama mereka. Allah tidak meredhoi adanya kekufuran terhadap hamba-hamba-Nya. <strong>Sesungguhnya didalam pengucapan selamat kepada mereka adalah tasyabbuh (menyerupai) dengan mereka dan ini diharamkan.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Diantara bentuk-bentuk tasyabbuh :</strong><br />
1. Ikut serta didalam hari raya tersebut.<br />
2. Mentransfer perayaan-perayaan mereka ke neger-negeri islam.<br />
Mereka juga berpendapat wajib menjauhi berbagai perayaan orang-orang kafir, menjauhi dari sikap menyerupai perbuatan-perbuatan mereka, menjauhi berbagai sarana yang digunakan untuk menghadiri perayaan tersebut, tidak menolong seorang muslim didalam menyerupai perayaan hari raya mereka, tidak mengucapkan selamat atas hari raya mereka serta menjauhi penggunaan berbagai nama dan istilah khusus didalam ibadah mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Jumhur ulama kontemporer </strong>membolehkan mengucapkan selamat Hari Natal.<br />
Di antaranya Syeikh Yusuf al Qaradhawi yang berpendapat bahwa perubahan kondisi global lah yang menjadikanku berbeda dengan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah didalam mengharamkan pengucapan selamat hari-hari Agama orang-orang Nasrani atau yang lainnya. Aku (Yusuf al Qaradhawi) membolehkan pengucapan itu apabila mereka (orang-orang Nasrani atau non muslim lainnya) adalah <strong>orang-orang yang cinta damai terhadap kaum muslimin</strong>, terlebih lagi apabila ada hubungan khsusus antara dirinya (non muslim) dengan seorang muslim, seperti : kerabat, tetangga rumah, teman kuliah, teman kerja dan lainnya. Hal ini termasuk didalam berbuat kebajikan yang tidak dilarang Allah swt namun dicintai-Nya sebagaimana Dia swt mencintai berbuat adil.<br />
Firman Allah swt :Artinya : “<em>Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil</em>.” (QS. Al-Mumtahanah: <img src="http://www.usahamaju.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" alt="8)" /><br />
Terlebih lagi jika mereka mengucapkan selamat Hari Raya kepada kaum muslimin.<br />
Firman Allah swt yang Artinya : “<em>Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu</em>.” (QS. An Nisaa : 86)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lembaga Riset dan Fatwa Eropa</strong> juga membolehkan pengucapan selamat ini <strong>jika mereka bukan termasuk orang-orang yang memerangi kaum muslimin</strong> khususnya dalam keadaan dimana kaum muslimin minoritas seperti di Barat. Setelah memaparkan berbagai dalil, Lembaga ini memberikan kesimpulan sebagai berikut : Tidak dilarang bagi seorang muslim atau Markaz Islam memberikan selamat atas perayaan ini, baik dengan lisan maupun pengiriman kartu ucapan yang tidak menampilkan simbol mereka atau berbagai ungkapan keagamaan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam seperti salib. Sesungguhnya Islam menafikan fikroh salib,<br />
firman-Nya yang Artinya , “<em>Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka</em>.” (QS. An Nisaa : 157)</p>
<p style="text-align: justify;">Kalimat-kalimat yang digunakan dalam pemberian selamat ini pun harus yang tidak mengandung pengukuhan atas agama mereka atau ridho dengannya. Adapun kalimat yang digunakan adalah kalimat pertemanan yang sudah dikenal dimasyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak dilarang untuk <strong>menerima berbagai hadiah</strong> dari mereka karena sesungguhnya Nabi saw telah menerima berbagai hadiah dari non muslim seperti al Muqouqis Pemimpin al Qibthi di Mesir dan juga yang lainnya dengan persyaratan bahwa hadiah itu bukanlah yang diharamkan oleh kaum muslimin seperti khomer, daging babi dan lainnya.<br />
Diantara para ulama yang membolehkan adalah DR. Abdus Sattar Fathullah Sa’id, ustadz bidang tafsir dan ilmu-ilmu Al Qur’an di Universitas Al Azhar, DR. Muhammad Sayyid Dasuki, ustadz Syari’ah di Univrsitas Qatar, Ustadz Musthafa az Zarqo serta Syeikh Muhammad Rasyd Ridho. (www.islamonline.net)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Adapun MUI (Majelis Ulama Indonesia)</strong> pada tahun 1981 sebelum mengeluarkan fatwanya, terlebih dahulu mengemukakan dasar-dasar ajaran Islam dengan disertai berbagai dalil baik dari Al Qur’an maupun Hadits Nabi saw sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: justify;">A) Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan.<br />
B) Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain.<br />
C) Bahwa ummat Islam harus mengakui ke-Nabian dan ke-Rasulan Isa Almasih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul yang lain.<br />
D) Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih dari satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Almasih itu anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik.<br />
E) Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab: Tidak.<br />
F) Islam mengajarkan bahwa Allah SWT itu hanya satu.<br />
G) Islam mengajarkan ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan.<br />
Juga berdasarkan Kaidah Ushul Fikih ”Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasidnya yang diperoleh, sedangkan mushalihnya tidak dihasilkan)”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Untuk kemudian MUI mengeluarkan fatwanya berisi</strong> :<br />
1. Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa as, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.<br />
2. Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.<br />
3. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Subhanahu Wata’ala dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan perayaan Natal.<br />
Mengucapkan Selamat Hari Natal Haram kecuali Darurat. Diantara dalil yang digunakan para ulama yang membolehkan mengucapkan Selamat Hari Natal adalah firman Allah swt :<br />
Artinya : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah : <img src="http://www.usahamaju.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" alt="8)" /></p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini merupakan rukhshoh (keringanan) dari Allah swt untuk membina hubungan dengan orang-orang yang tidak memusuhi kaum mukminin dan tidak memerangi mereka. Ibnu Zaid mengatakan bahwa hal itu adalah pada awal-awal islam yaitu untuk menghindar dan meninggalkan perintah berperang kemudian di-mansukh (dihapus).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Qatadhah </strong>mengatakan bahwa ayat ini dihapus dengan firman Allah swt :<br />
Artinya : “Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka.” (QS. At Taubah : 5)<br />
Adapula yang menyebutkan bahwa hukum ini dikarenakan satu sebab yaitu perdamaian. Ketika perdamaian hilang dengan futuh Mekah maka hukum didalam ayat ini di-mansukh (dihapus) dan yang tinggal hanya tulisannya untuk dibaca. Ada juga yang mengatakan bahwa ayat ini khusus untuk para sekutu Nabi saw dan orang-orang yang terikat perjanjian dengan Nabi saw dan tidak memutuskannya, demikian dikatakan al Hasan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Al Kalibi </strong>mengatakan bahwa mereka adalah Khuza’ah, Banil Harits bin Abdi Manaf, demikian pula dikatakan oleh Abu Sholeh. Ada yang mengatakan bahwa mereka adalah Khuza’ah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mujahid </strong>mengatakan bahwa ayat ini dikhususkan terhadap orang-orang beriman yang tidak berhijrah. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud didalam ayat ini adalah kaum wanita dan anak-anak dikarenakan mereka tidak ikut memerangi, maka Allah swt mengizinkan untuk berbuat baik kepada mereka, demikianlah disebutkan oleh sebagian ahli tafsir… (al Jami’ li Ahkamil Qur’an juz IX hal 311)</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pemaparan yang dsebutkan Imam Qurthubi diatas maka ayat ini tidak bisa diperlakukan secara umum tetapi dikhususkan untuk orang-orang yang terikat perjanjian dengan Rasulullah saw selama mereka tidak memutuskannya (ahli dzimmah).<br />
Hak-hak dan kewajiban-kewajiban kafir dzimmi adalah sama persis dengan kaum muslimin di suatu negara islam. Mereka semua berada dibawah kontrol penuh dari pemerintahan islam sehingga setiap kali mereka melakukan tindakan kriminal, kejahatan atau melanggar perjanjian maka langsung mendapatkan sangsi dari pemerintah.</p>
<p style="text-align: justify;">Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Janganlah kamu memulai salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian bertemu salah seorang diantara mereka di jalan maka sempitkanlah jalannya.” (HR. Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;">Yang dimaksud dengan sempitkan jalan mereka adalah jangan biarkan seorang dzimmi berada ditengah jalan akan tetapi jadikan dia agar berada ditempat yang paling sempit apabila kaum muslimin ikut berjalan bersamanya. Namun apabila jalan itu tidak ramai maka tidak ada halangan baginya. Mereka mengatakan : “Akan tetapi penyempitan di sini jangan sampai menyebabkan orang itu terdorong ke jurang, terbentur dinding atau yang sejenisnya.” (Shohih Muslim bi Syarhin Nawawi juz XIV hal 211)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits “menyempitkan jalan” itu menunjukkan bahwa seorang muslim harus bisa menjaga izzahnya dihadapan orang-orang non muslim tanpa pernah mau merendahkannya apalagi direndahkan. Namun demikian dalam menampilkan izzah tersebut janganlah sampai menzhalimi mereka sehingga mereka jatuh ke jurang atau terbentur dinding karena jika ini terjadi maka ia akan mendapatkan sangsi.</p>
<p style="text-align: justify;">Disebutkan didalam sejarah bahwa <strong>Umar bin Khottob</strong> pernah mengadili Gubernur Mesir Amr bin Ash karena perlakuan anaknya yang memukul seorang Nasrani Qibti dalam suatu permainan. Hakim Syuraih pernah memenangkan seorang Yahudi terhadap Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib dalam kasus beju besinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan pada zaman ini, orang-orang non muslim tidaklah berada dibawah suatu pemerintahan islam yang terus mengawasinya dan bisa memberikan sangsi tegas ketika mereka melakukan pelanggaran kemanusiaan, pelecehan maupun tindakan kriminal terhadap seseorang muslim ataupun umat islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Keadaan justru sebaliknya, orang-orang non muslim tampak mendominanasi di berbagai aspek kehidupan manusia baik pilitik, ekonomi, budaya maupun militer. Tidak jarang dikarenakan dominasi ini, mereka melakukan berbagai penghinaan atau pelecehan terhadap simbol-simbol islam sementara si pelakunya tidak pernah mendapatkan sangsi yang tegas dari pemerintahan setempat, terutama di daerah-daerah atau negara-negara yang minoritas kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan berarti dalam kondisi dimana orang-orang non muslim begitu dominan kemudian kaum muslimin harus kehilangan izzahnya dan larut bersama mereka, mengikuti atau mengakui ajaran-ajaran agama mereka. Seorang muslim harus tetap bisa mempertahankan ciri khas keislamannya dihadapan berbagai ciri khas yang bukan islam didalam kondisi bagaimanapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentunya diantara mereka—orang-orang non muslim—ada yang berbuat baik kepada kaum muslimin dan tidak menyakitinya maka terhadap mereka setiap muslim diharuskan membalasnya dengan perbuatan baik pula.<br />
Al Qur’an maupun Sunah banyak menganjurkan kaum muslimin untuk senantiasa berbuat baik kepada semua orang baik terhadap sesama muslim maupun non muslim, diantaranya : surat al Mumtahanah ayat 8 diatas. Sabda Rasulullah saw,”Sayangilah orang yang ada di bumi maka yang ada di langit akan menyayangimu.” (HR. Thabrani) Juga sabdanya saw,”Barangsiapa yang menyakiti seorang dzimmi maka aku akan menjadi lawannya di hari kiamat.” (HR. Muslim)<br />
Perbuatan baik kepada mereka bukan berarti harus masuk kedalam prinsip-prinsip agama mereka (aqidah) karena batasan didalam hal ini sudah sangat jelas dan tegas digariskan oleh Allah swt :<br />
Artinya : “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”(QS. Al Kafirun : 6)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hari Natal</strong> adalah bagian dari prinsip-prinsip agama Nasrani, mereka meyakini bahwa di hari inilah Yesus Kristus dilahirkan. Didalam bahasa Inggris disebut dengan Christmas, Christ berarti Kristus sedangkan Mass berarti masa atau kumpulan jadi bahwa pada hari itu banyak orang berkumpul mengingat / merayakan hari kelahiran Kristus. Dan Kristus menurut keyakinan mereka adalah Allah yang mejelma.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbuat kebaikan kepada mereka dalam hal ini adalah bukan dengan ikut memberikan selamat Hari Natal dikarenakan alasan diatas akan tetapi dengan tidak mengganggu mereka didalam merayakannya (aspek sosial).<br />
Pemberian ucapan selamat Natal baik dengan lisan, telepon, sms, email ataupun pengiriman kartu berarti sudah memberikan pengakuan terhadap agama mereka dan rela dengan prinsip-prinsip agama mereka. Hal ini dilarang oleh Allah swt dalam firman-Nya, Artinya : “Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Az Zumar : 7)</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi pemberian ucapan Selamat Hari Natal kepada orang-orang Nasrani baik ia adalah kerabat, teman dekat, tetangga, teman kantor, teman sekolah dan lainnya adalah <strong>haram hukumnya</strong>, sebagaimana pendapat kelompok pertama (Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim, Ibn Baaz dan lainnya) dan juga fatwa MUI.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun demikian setiap muslim yang berada diantara lingkungan mayoritas orang-orang Nasrani, seperti muslim yang tempat tinggalnya diantara rumah-rumah orang Nasrani, pegawai yang bekerja dengan orang Nasrani, seorang siswa di sekolah Nasrani, <strong>seorang pebisnis muslim yang sangat tergantung dengan pebisinis Nasrani atau kaum muslimin yang berada di daerah-daerah atau negeri-negeri non muslim maka boleh memberikan ucapan selamat Hari Natal kepada orang-orang Nasrani yang ada di sekitarnya tersebut disebabkan keterpaksaan</strong>. Ucapan selamat yang keluar darinya pun harus tidak dibarengi dengan keredhoan didalam hatinya serta diharuskan baginya untuk beristighfar dan bertaubat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Diantara kondisi terpaksa misalnya</strong>; jika seorang pegawai muslim tidak mengucapkan Selamat Hari Natal kepada boss atau atasannya maka ia akan dipecat, karirnya dihambat, dikurangi hak-haknya. Atau seorang siswa muslim apabila tidak memberikan ucapan Selamat Natal kepada Gurunya maka kemungkinan ia akan ditekan nilainya, diperlakukan tidak adil, dikurangi hak-haknya. Atau seorang muslim yang tinggal di suatu daerah atau negara non muslim apabila tidak memberikan Selamat Hari Natal kepada para tetangga Nasrani di sekitarnya akan mendapatkan tekanan sosial dan lain sebagainya.<br />
Artinya : “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS. An Nahl : 106)</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun apabila keadaan atau kondisi sekitarnya tidaklah memaksa atau mendesaknya dan tidak ada pengaruh sama sekali terhadap karir, jabatan, hak-hak atau perlakuan orang-orang Nasrani sekelilingnya terhadap diri dan keluarganya <strong>maka tidak diperbolehkan baginya mengucapkan Selamat Hari Natal</strong> kepada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">wallahu a’lam<br />
Sumber : <a href="http://www.eramuslim.com/">www.eramuslim.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">http://www.usahamaju.com/2010/12/24/fatwa-ulama-tentang-hukum-mengucapkan-selamat-natal/</p>
<div class="shr-publisher-2491"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><div class='shareaholic-like-buttonset' style='float:none;height:30px;'><a class='shareaholic-fblike' data-shr_layout='button_count' data-shr_showfaces='false' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2011%2F12%2F20%2Fbantahan-atas-fatwa-halal-mengucapkan-selamat-natal-yusuf-al-qaradhawi%2F' data-shr_title='Bantahan+Atas+Fatwa+Halal+Mengucapkan+Selamat+Natal+Yusuf+Al+Qaradhawi'></a><a class='shareaholic-fbsend' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2011%2F12%2F20%2Fbantahan-atas-fatwa-halal-mengucapkan-selamat-natal-yusuf-al-qaradhawi%2F'></a><a class='shareaholic-googleplusone' data-shr_size='medium' data-shr_count='true' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2011%2F12%2F20%2Fbantahan-atas-fatwa-halal-mengucapkan-selamat-natal-yusuf-al-qaradhawi%2F' data-shr_title='Bantahan+Atas+Fatwa+Halal+Mengucapkan+Selamat+Natal+Yusuf+Al+Qaradhawi'></a><a class='shareaholic-tweetbutton' data-shr_count='none' data-shr_href='http%3A%2F%2Fmedia-islam.or.id%2F2011%2F12%2F20%2Fbantahan-atas-fatwa-halal-mengucapkan-selamat-natal-yusuf-al-qaradhawi%2F' data-shr_title='Bantahan+Atas+Fatwa+Halal+Mengucapkan+Selamat+Natal+Yusuf+Al+Qaradhawi'></a></div><div style="clear: both; min-height: 1px; height: 3px; width: 100%;"></div><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-islam.or.id/2011/12/20/bantahan-atas-fatwa-halal-mengucapkan-selamat-natal-yusuf-al-qaradhawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

